Tuesday, October 03, 2006

Sebuah Deskripsi tentang Performance Art

Hasil Observasi Keberadaan dan Manajemen Performance Art
di Indonesia, Singapura dan Malaysia selama setahun
[2005 – 2006]

Sebagai (salah satu) hasil seleksi program Arts Network Asia Grant yang diselenggarakan oleh Arts Network Asia [Jaringan Kesenian Asia] untuk periode 2005

disusun
oleh:
S. S. Listyowati
[atieq.blogspot.com]

September, 2006



Kata Pengantar

Tersebutlah kisah dalam kitab-kitab suci Tauhid yang bertutur: “Bila kau ditampar pipi kirimu, berikanlah pipi kananmu”, kata Isa [Sang Kristus]. Seorang anak kecil serta merta dibunuh di depan mata dan selanjutnya giliran warga satu desa (sebuah kaum) dimusnahkan. Darah mengalir merah dan berceceran di sana-sini. Onggokan manusia binasa. Ibrahim pun termangu.

Apakah yang termakna dalam semua itu?

Kekerasankah?
Kekejian dan kebiadabankah?
Masochistkah?
Kebodohankah?

Akal budi manusia pun beranjak bergegas mencari arti di baliknya. Sang Maha Kreator seringkali memutar otak dan perasaan manusia dalam pencarian makna. Logika empirik berperang hebat dalam pemahaman spiritual dan metafisik. Setiap rasio menghitung keberadaan yang tertera dan termateri, tak peduli pada keberadaan zat tak teraba dan kasat mata (immaterial).
Begitu keras.
Lalu, apakah kita menghadapi dan menyikapinya dengan keras (dan kekerasan) pula?

Melalui anugerah intelektual yang tak terkira, manusia pun berupaya membaca maksudnya, tak sekedar yang tersurat namun yang tersirat (something beyond). Pembacaan sejauh dan sedalam kalbu.
Performance art seringkali menjadi hal tabu, ekstrim dan provokatif.
Kenapa?
Mengapa? Dimana? Bilamana? Oleh siapa? Kepada siapa? Untuk apa?

Observasi dan penulisan ini adalah salah satu upaya menuju jawaban semua itu.

Bagai pencarian cahaya, sang enlightment. Sinar indahnya yang sejuk semoga segera menerangi mata batin kita, mengalahkan indra mata yang selama ini seringkali tertutup dan buta, meski kelopaknya terbuka lebar.
Tak lepas dari segala keterbatasan, semoga hal ini menjadi manfaat bersama.

Salam,
Penulis,
Jakarta, September 2006



INTRODUKSI
Hadir pernyataan satu dua performer Indonesia yang baru saja melakukan perjalanan keliling dunia ke beberapa situs dan even-even performance art, lalu menyatakan bahwa performance art kini sudah tidak menarik lagi.
Pernyataan ini memerlukan pembuktian, Mempelajari keberadaan performance art di Indonesia tidak cukup hanya di seputar negeri ini. Meski observasi akurat selayaknya dilakukan di beberapa negara di dunia yang meliputi sejarah awal. Bagai migrasi para burung dari satu tempat ke tempat lain, dari satu benua ke benua lain, performance art meski kelahirannya di benua belahan Barat, namun keberadaannya bagai mengudara, menembus batas ruang negara, bangsa, ras dan keyakinan hingga ke timur dan Asia, yang perlu disikapi sedemikian rupa agar tetap memberi kehidupan, kesegaran dan kelahiran-kelahiran baru, kolaborasi baru, bentuk-bentuk baru, performa baru, bukan wabah baru macam flu burung yang berakhir pada kematian.
Dari hasil pengumpulan angket yang tersebar ke beberapa komunitas seni --yang memiliki artis mau pun program performance art—di beberapa kota dan pulau di Indonesia (Jakarta, Bandung, Yogya, Solo, Semarang, Makassar), saya menemukan sekitar 70% menyatakan tidak tahu istilah performance art. Angket ini terbagi dalam 3 sasaran, yakni (1) Seniman/ Artis, (2) Manajemen Seni dan (3) Umum. Setiap butir pertanyaan dalam angket memiliki tujuan dasar alasan dasar. Termasuk pertanyaan atas data diri (nama, profesi, jenis kelamin, agama dan seterusnya). Beberapa dari para pengisi angket tersebut malah berasosiasi hal ini sinonim dan identik dengan performing art. Sekitar 50% bahkan tidak mengetahui asal-muasal dan hal-ikhwal performance art, padahal beberapa pengisi angket adalah pelaku performance art. Meski begitu, hampir 100% menyatakan performance art sebagai salah satu bentuk ekspresi kreatif manusia yang perlu dilestarikan dan dilindungi keberadaannya oleh pihak-pihak yang berwenang dan peduli terhadap kebebasan berpikir dan menyuarakan isi hati serta pikirannya.
Riset ini membutuhkan upaya komparatif dengan negara-negara tetangga yang dianggap ‘sama’, ‘senasib’ dan ‘sepenanggungan’. Riset ini memang sejak awal bertujuan menengok negara Malaysia dan Singapura dalam setahun ini (2005-2006). Kedua tetangga dekat ini sangat menarik bagi penelitian ini. Pertama, karena satu rumpun: Melayu. Kedua, karena kondisi aktual di Singapura sangatlah jauh berbeda dengan Malaysia. Indonesia tampaknya berada di tengah-tengahnya. Singapura sudah melangkah bahkan melompat cukup jauh. Para artisnya sudah sangat dikenal di berbagai benua. Bahkan di negara singa ini, performance art telah menjadi wacana nasional dengan keberadaan studi (mata kuliah) ini di berbagai institusi pendidikan seni. Pemerintah Singapura pun tampaknya telah setuju mendukung keberadaannya hingga masuk dalam kalender acara Singapore Art’s Festival. Malaysia justru baru setahun belakangan ini masih tengah berupaya memulai persiapan acara, termasuk untuk tahun ini.
Mengapa demikian?
Jawabannya yaitu karena model peraturan dan kebijaksanaan masing-masing negara berbeda, bergantung pada definisi etika yang ada yang sangat berkaitan dengan konsep manajemen bernegara.
Hasil angket tersebut memberikan indikasi bahwa keberadaan performance art meski belum diketahui dengan baik, namun publik sangat mendukung kebebasan berkreasi sebagai salah satu medium komunikasi. Selain itu, dari data dan pengamatan langsung saya menemukan juga bahwa performance art melibatkan berbagai aspek manajerial seni. Aspek-aspek ini meliputi antara lain dalam (1) manajemen institusi dan events, berkaitan dengan kemampuan berorganisasi dan hubungan dengan pemerintah (2) manajemen wawasan, berkaitan dengan luas pengetahuan dan pembinaan wacana, serta (3) manajemen diri, berkaitan dengan pelatihan fokus pikiran, pengasahan hati nurani, penggodogan mental dan fisik dalam menentukan, mempersiapkan dan melakukan performance serta kemampuan menghadapi berbagai resiko setelahnya.


TUJUAN DAN MANFAAT MANAJEMEN SENI PERFORMANCE ART
Tujuan Umum [manajemen seni]
Sejarah membuktikan bahwa proses kreatif manusia selalu hadir di sepanjang masa, tak pernah berhenti. Seni sebagai salah satu kreasi manusia mencerminkan budaya yang tengah berlanjut di setiap peradaban manusia. Seni menjadi salah satu medium dan daya ungkap manusia dalam menunjukkan ide dan pikirannya.
Proses komunikasi ini menjadi menarik manakala berbagai kepentingan dan tujuan bersatu di antara perbekalan yang dimiliki. Bagaimana mengangkut semua logistik itu agar pesan dapat tersampaikan kepada sasaran yang dituju? Sementara seni sebagai sebuah ruang yang tak berbatas seringkali mendapatkan kesulitan saat mengemasnya agar menjadi paket yang menarik untuk dibuka.
Manajemen seni menjadi wahana dalam memutuskan apakah sebuah aktivitas seni berhasil memenuhi hasil final sebagaimana kerangka tujuan semula.

Tujuan Khusus [manajemen performance art]
Performance art masih menjadi barang baru di tiga negara ini (Indonesia, Singapura dan Malaysia). Dengan tahap kondisi dan situasi yang berbeda di masing-masing negara, performance art masih menjadi pertikaian antara seni atau bukan.
Kondisi demikian tetap tidak menyurutkan adanya perluasan komunitas para pelaku dan pemerhati performance art. Sementara di sisi lain, situasi menjadi tak tentu arah akibat persepsi yang belum ragam. Perluasan yang terjadi bisa jadi menjadi sesuatu hal yang semu dan berada di kawasan abu-abu. Timbul pertikaian dan konflik akibat ketidaktahuan. Beberapa massa mengatasnamakan norma dan kaidah-kaidah etika yang dianut mereka. Tak segan, mereka melakukan upaya-upaya pemaksaan faham dan ‘main hakim sendiri’, meski hadir pihak keamanan yang lebih berwenang. Pemerintah turun tangan dan menyatakan penolakan, bahkan melakukan pemberangusan. Masyarakat yang masih sangat awam menjadi korban peng’kebiri’an wacana sebagaimana para pelakunya.
Kenyataan inilah membuat penulis berpikir, apakah betul bisa dilaksanakan pemasungan hak cipta dan kreasi manusia --apa pun dan bagaimana pun bentuknya?
Berbeda dengan wilayah seni lainnya, performance art memiliki muatan tersendiri dalam genrenya. Perluasan komunitasnya menunjukkan bahwa ada sesuatu yang menarik dalam genre ini.
Maka, pengelolaan dalam performance art membutuhkan studi manajemen tersendiri. Dibutuhkan berbagai observasi sebagai langkah riset yang perlu dilakukan secara berkesinambungan. Hasil observasi ini akan sangat berguna untuk menjembatani kekosongan studi manajemen performance art Selanjutnya diharapkan menjadi salah satu acuan komparatif bagi para pelaku dan pemerhati di dalamnya.

Manfaat Observasi
Hasil observasi ini diharapkan valid karena aktualitas dan faktualitas data yang didapatkan lebih mencakup rata, melalui pengamatan langsung ke berbagai events dan festival serta konferensi/ simposium internasional mengenai performance art. Tidak sekedar tinjauan pustaka. Riset ini selain bertujuan memberi informasi seluas mungkin tentang keberadaan performance art di Indonesia, Singapura dan Malaysia melalui rangkaian lecture dan presentasi paper (baru di wilayah Indonesia), berikut pula diharapkan menjadi masukan berharga bagi kemungkinan pengembangan selanjutnya dalam dunia ilmu pengetahuan dan humaniora, lebih dari sekedar perkembangan wacana. Informasi ini diharapkan menjadi manfaat bagi 3 negara, baik masing-masing mau pun di antara satu dengan yang lainnya.
Riset ini diikuti dengan berbagai acara talk yang lebih mengarah pada sharing forum yang diadakan ke berbagai institusi dan pendidikan seni yang tersebar di Indonesia. Tentu saja hasil riset ini diharapkan menjadi masukan yang berharga bagi para pemerhati dan artis yang tengah melakukan konsentrasi khusus di bidang performance art.
Selanjutnya, selain menjadi kelengkapan berbagai riset yang membutuhkan data dalam riset ini, hasil riset ini dapat dijadikan sebagai lemparan bongkahan bola salju yang akan semakin membesar dan menimbulkan efek gema. Diharapkan kemunculan minat-minat baru dalam menguak dan membedah performance art dengan berbagai aspeknya melalui penelitian-penelitian yang hasilnya menjadi kelengkapan wacana kita bersama.


TENTANG PERFORMANCE ART
Sejarah* dan perkembangan bentuk serta istilahnya di masa lalu hingga kini


*) Sekilas Awal di Barat
Dimulai sejak jaman Renaissance di abad ke 12 di Itali, yang kemudian melahirkan Mannerism hingga Barocco, lalu Rococo, Neoclassism, Romanticism, Realism, pre-Raphaelites, seni akademik (Academic art), Impressionism dan Post-Impressionism. Masing-masing memiliki sejarah perkembangan yang meliputi wilayah-wilayah ketidakpuasan atas format-format lama, melahirkan ide-ide baru sekaligus mata rantai inspirasi baru menyempurnakan prinsip estetika yang betul-betul mengandalkan keindahan indra perasa (empirik).

Seni di Abad 20
Menjelang abad ke-20, konsep estetika di Eropa mulai makin berubah dan bergeser. Muncul aliran dan gelombang baru yang menghempaskan gulungan-gulungan ombak dan menyapu bentuk-bentuk konvensional kesenian melalui masa-masa
Modernism, Cubism, Expressionism, Abstract, Blaue Reiter, Die Brücke, Dada, Fauvism, Art Nouveau , Bauhaus, Pop art, De Stijl, Art Deco, Abstract Expressionism, Futurism, Suprematism, Surrealism, Minimalism dan Post-Modernism.
Semuanya hadir saling kait mengait dan acapkali merupakan gerakan penolakan dan timbulnya keyakinan-keyakinan atas pemahaman-pemahaman baru yang lebih individual, memperhatikan hak-hak dasar dan independensi manusia yang cenderung liberal. Tidak lagi mengatasnamakan bangsa atau pun agama, namun mengandalkan narasi implisit yang mengesankan anti kemapanan. Kolektif hanya untuk perjuangan hak. Genre-genre yang timbul di abad ini saya sebut sebagai abad deviasi. Penyimpangan dari pakem konservatif atas seni, meski tetap bertujuan pada ‘keindahan’ yang bergaris bawah berkekuatan intelektualita implisit.

Awal ‘Deviasi’
Sejarah seni mencatat adanya ‘perlawanan’ dan ‘pemberontakan’ terhadap nilai-nilai konservatif estetika dimulai oleh sekumpulan seniman ‘nyentrik’ namun sangat intelek. Dimulai saat satu dekade sebelum perang dunia pertama, Jerman telah dikenal sebagai area pergolakan serta pendobrakan paradigma statis dan permanen atas nilai seni.

Munich saat itu menjadi pusat seni yang dipenuhi oleh sekumpulan para pelukis ekspresionisme, penyair, penulis dan aktor bohemian (dikenal sebagai kelompok Blaue Reiter). Gelombang ekspresionisme menyerbu para pelukis di Munich dan Berlin hingga Wina. Sebuah kafe yang dikelola oleh Emmy Hennings dan suaminya Hugo Ball bernama Café Simplicissmus sangat dikenal dengan pertunjukan kabaretnya yang lebih sering disebut dengan ‘teater intim’.
Cabaret Voltaire antara lain menampilkan karya-karya kontroversial Benyamin Franklin Wedekind yang terkenal dengan citra buruknya karena dianggap provokatif dalam hal seksual yang membuatnya sempat dibuang ke Paris dan dikurung dalam penjara.
Sekembalinya ke Munich (1901), Wedekind tetap memproduksi karya-karya satir dan malah semakin giat melakukan aksi-aksi performance yang dianggap cabul dan tidak senonoh. Tahun 1909, karyanya yang melukiskan emansipasi dan karir seorang perempuan dilarang ditampilkan.
Tak lama kemudian Munich kembali heboh dengan isyu terbaru mengenai seniman muda ‘nakal’ lainnya bernama Kokoschka. Ekspresionisme melanda Munich, Berlin hingga Wina. Kokoschka dianggap sebagai penghina eksentrik sekaligus seniman yang merosot moralnya dan ‘penjahat kasar’ terhadap moral publik Wina. Seniman berusia 22 tahun ini menggelar performance. Mörder, Hoffnung der Frauen yang dipentaskan di Teater Kebun Vienna Kunstchau adalah lemparan kemarahan Kokoschka atas perlakuan publik. Para performer merangkak, merentangkan tangan, melengkungkan punggung dan menciptakan ekspresi wajah yang dibuat-buat, melakukan pertarungan agresif antara pria dan wanita, mencabik-cabik baju tokoh utama dan menorehkan darah buatan (aksi ini menjadi ciri teknik akting seniman ekspresionisme, dimana tradisi realistis dihancurkan). Sangat provokatif. Karya Kokoschka ini menjadi perbincangan di Munich melalui Berlin setelah penerbitannya di majalah Der Sturm berikut gambar selain teks.

Awal Menuju Kelahiran
Futurist

Tahun 1910, F.T. (Fillippo Tomasso) Marinetti, penyair Italia dan pendiri Futurisme [Futurist Manifesto terbit 1909 di Le Figaro, Paris dan tiga bulan kemudian di Jepang], melihat publikasi karya sastranya, ia pun menyadari bahwa halaman sebuah majalah telah berubah ke ruang rupa sebagai akibat ketidaktentuan.
"Parole in Liberta" (Words in Freedom/ Kata-kata dalam Kebebasan) sebagai manifestonya yang sangat berpengaruh, diterbitkan tahun 1912. Kata-kata berkaitan, halaman sebagai ruang seni dan pembaca –-waktu yang terkontrol dalam sebuah dokumen— dipublikasikan dalam ribuan copy dan ditujukan untuk audiens serta khalayak luas.
Sebanyak 800.000 pernyataan "Against Past-Loving Venice" disebarkan ke jalanan dan menghanyutkan para pelukis dan penyair futurist di Italia serta masyarakat kota Venesia. Mereka pun membawa kehidupan seni ke jalanan, sebagai kesadaran ingin lepas dari belenggu masa lalu dengan menghancurkan gudang sejarah dan rengkuhan teknologi.
1914, tepatnya 29 Maret dan 5 April di Galeri Sprovieri, Roma, Marinetti mempertunjukkan gagasan baru dalam seni pertunjukan. Rancangan performance yang ditulis oleh Francesco Cangiullo --seorang pekerja bebas-- berjudul “Piedigrotta” adalah sebuah drama ‘kata-kata dalam kebebasan’. Karya menyertakan galeri dalam tata cahaya lampu berwarna merah, dihiasi lukisan-lukisan. Beberapa ‘kurcaci’ dengan topi-topi fantastis menyembul ke atas dan terbuat dari kertas tissue, membantu Marinetti melantangkan ‘kata-kata dalam kebebasan’ diiringi dentingan piano oleh Cangiullo. Para performer memainkan instrumen bunyi ‘home made’ yang terdiri dari kerang laut besar, busur gesek (terbuat dari gergaji yang disambungkan dengan kaleng yang bergesekan) dan sebuah kotak terracotta kecil berlapis kulit yang dipasangi buluh dan bergetar saat ‘dipukul’ dengan ‘tangan basah’.
Karya tersebut melahirkan bentuk baru dalam seni deklamasi (Dynamic and Synoptic Declamation). Marinetti bahkan menyatakan bahwa dirinya adalah ‘unggulan dunia yang tak dapat disangkal sebagai pendeklamasi puisi bebas dan kata-kata dalam kebebasan’. Menurutnya, pendeklamasi Futurist harus berdeklamasi dengan kakinya sebanyak ia berdeklamasi dengan tangannya, selain harus bisa memainkan instrumen-instrumen penghasil suara yang berbeda.
Piedigrotta dimainkan kembali di Galeri Dorè, London hingga akhir April, tak lama setelah tur Marinetti di Moskow dan St. Petersburg. Times menuliskan saat itu ruangan ‘dihiasi dengan banyak spesimen dari sekolah seni ultra-modern’.
Tradisi realistis dihancurkan dengan pemunculan drama-drama ekspresionisme.
Musim panas tahun 1915, Hugo Ball dan Emmy Hennings meninggalkan Jerman melalui Berlin menuju Zűrich, Swiss. Cabaret Voltaire hidup kembali. Beberapa jam saat persiapan ruang pentas menjelang malam pembukaan, hadir 4 pria kecil berwajah oriental yang sangat sopan membungkuk berulang kali memperkenalkan diri. Para seniman yang terdiri dari pelukis dan penyair itu menyumbangkan diri melalui karya seninya di malam pembukaan. Mereka antara lain adalah Tristan Tzara, Marcel dan Georges Janco serta Jean Arp. Masing-masing dengan kepiawaiannya berdeklamasi, menari, menyanyi dalam bahasa Perancis, Denmark hingga Rusia. Pembacaan dan performance berlangsung di malam-malam kabaret selanjutnya adalah kunci untuk menemukan kembali kesenangan dalam seni.

Dada
Di bulan April 1916, malam-malam kabaret tetap berlanjut dan kelompok Cabaret Voltaire semakin berkembang dengan kehadiran orang-orang baru antara lain Richard Huelsenbeck di bulan Februari sebelumnya. Acara rutin mereka akhirnya menemukan bentuk yang khusus dan tetap mempertahankan perubahan bentuk tersebut sebagai sebuah gerakan. Para penonton semakin meluas, segmennya tak hanya publik seni, namun juga tokoh-tokoh intelektualis lainnya di bidang politik (Lenin di antaranya) dan kaum borjuis, khususnya anak-anak mudanya. Tzara yang sangat berambisi untuk kelanjutan Cabaret Voltaire –sebagai sebuah gerakan. Lahirlah istilah ‘dada’ yang ditemukan Ball dan Richard Huelsenbeck dari kamus bahasa Jerman-Perancis, yang berarti ‘ya, ya’. dalam bahasa Rumania, dalam bahasa Perancis berarti ‘kuda-kudaan’ dan dalam bahasa Jerman berarti ‘orang naïf nan dungu, senang dengan penghasilan dan asyik dengan kereta bayi’, demikian menurut Ball.
Munculnya kaum Dada memulai fase baru gerakan Dada dengan memperkenalkan diri di Waag Hall, Zűrich pada tanggal 14 Juli 1916. Malam Dada Pertama melibatkan unsur musik, tari, teori, puisi, lukisan, kostum dan topeng. Puisi diteriakkan, perkelahian, drum besar, lonceng kecil, orang-orang protes memecahkan kaca jendela, Arp erklärung, Janco meine Bilder, Heusser eigene Kompositionen, kostum kardus, tarian kubisme, Tzara berdiri di depan tirai setenang batu dan menjelaskan estetika baru, akrobat di antara penonton, hingar bingar dan sebagainya. Mereka pun diberi ‘gelar kehormatan’ sebagai ‘para Nihilis’.
Galerie Dada pun didirikan. Program galeri tak hanya pameran dan diskusi namun juga terbuka untuk acara pesta teh sore hari bagi siswa sekolah dan acara keliling galeri bagi para pekerja, ada pengajaran tentang Kandinsky dan demonstrasi. Hanya 11 minggu kemudian galeri ditutup secara resmi.
Huelsenbeck kembali ke Jerman dan menerbitkan tulisannya ‘En Avant Dada: Eine Geschicte des Dadaismus’ (1920). Buku ini menganalisis sebagian konsep yang sudah dikembangkan. Antara lain konsep yang sama digunakan Marinetti dalam arti sastra. Teori ini dipergunakan untuk menghadapi pengertian baru dalam konteks Berlin. Para bohemian sastra Berlin kurang menyikapi sikap ‘seni untuk seni’. Mereka segera mempengaruhi Dada melalui pendirian politik yang belum dikenal sebelumnya.
Perkenalan gagasan Dada pada publik Berlin berlangsung, Huelsenbeck menyodorkan karyanya berjudul ‘Dadaisme in Life and Art’. Namun akhirnya pihak manajemen acara mematikan lampu di tengah-tengah pidato Haussmann, karena khawatir akan lukisan di dinding. Malam itu juga Huelsenbeck pergi menghilang ke kota asalnya di Brandenburg. Namun seniman Dadaisme Berlin tetap berjalan. Dalam kostum yang aneh-aneh, mereka berjalan-jalan di Kunfurstendamm dengan menyertakan slogan-slogan antara lain: Huelsenbeck adalah Weltdada, Meisterdada; Hausmann adalah Dadasoph; Grosz menggunakan bermacam nama antara lain: Boff, Dadamarschall, Propagandada; Gerhard Preiss menemukan Dada Trott, Musik Dada. Sejalan dengan keberadaan Komunisme Radikal dan persoalan lapangan kerja dan pengangguran, Berlin mengubah Dada menjadi makin agresif. Pertemuan Dada Internasional Pertama di Burchard Gallery pada bulan Juni 1920.
Di Cologne, Max Ernst membuka pameran ‘Dada-Vorfruhling’ bersama Jean-Arp dan Baargeld pada tanggal 20 April 1920. Pameran ini kemudian ditutup oleh polisi. Pengunjung yang sempat masuk mendapati di dalamnya karya Ernst berupa sebuah aquarium penuh air berwarna merah mengesankan darah dengan jam wekker di dasarnya dan sebilah tangan dari kayu menyembul ke atas permukaan air dan sebuah wig perempuan mengapung di atasnya. Sebilah kapak di dekatnya dapat mengundang audiens untuk segera memecahkan karya tersebut.
Francis Picabia, pendatang baru --lahir di Paris dan tinggal di New York serta Barcelona, selain di kota kelahirannya, orang kaya keturunan Cuba—memperkenalkan dirinya di tahun 1918 pada rombongan Dada di pesta sampanye di Hotel Elite, Zurich. Di New York, ia dan Duchamp merupakan aktivis seni avant-garde papan atas. Di tahun sebelumnya, ia menggelar pameran independen bersama Walter Arensberg dan Duchamp dengan karya ‘Fountain’nya berupa urinoir. Karya ini menarik perhatian Tzara yang menyambutnya dengan kalimat ‘Panjang umur Descartes. Panjang umur Picabia, anti-pelukis yang baru tiba dari New York’.
Maret 1919 Tzara menerbitkan majalah sastra bernama Littérature bersama rekan-rekan korespondensinya André Breton, Louis Aragon, Paul Eluard, Philippe Soupault Pierre Reverdi dan Jean Cocteau di Paris. Hal ini yang menjadikannya untuk segera memutuskan kepindahannya ke Paris.
Tristan Tzara bersama gerakan rekan-rekan Prancisnya tersebut a.l.: André Breton, Louis Aragon, Jean Arp di Paris dan kemudian bersama tiga rekan lainnya Marcel Duchamp, Francis Picabia, dan Man Ray -- membawa spirit gerakan ini dari Paris ke New York. Gerakan ini berpikiran bahwa absurditas perang adalah sebuah kesia-siaan meng-agitasi para kaum borjuis dalam melawan agresi kaum fascist. Kaum Futuris dan Dadais melakukannya sebagai gerakan (sikap) dalam menghadapi kepuasan atas diri sendiri (confronting complacency).
Kelahiran kaum Dada juga berdasar pada surealisme dan absurditas yang seringkali karya-karyanya muncul seolah tak bermakna. Duchamp merayakan lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci dengan menambahi kumis dan janggut di atasnya.



Di Barat [Eropa dan Amerika]
Berdasar pada data dan informasi yang saya temukan dalam referensi barat, performance art mengawali proses kehadirannya di dunia menjelang awal abad ke-20, saat Perang Dunia I, saat Ekspresionisme makin merambah kesadaran intelektual.
Namun beberapa masa sebelumnya, ada begitu banyak data yang menjadi latar belakang hingga menuju ke arah pembentukan genre ini serta merta menjadikan observasi ini merunut tak hanya setapak dua tapak ke belakang atas dasar relevansinya. Pemahaman atas genre seni ini semakin bisa terlihat benang merahnya dengan flash back mempelajari pengetahuan serta analisa atas sejarah seni sebelumnya, sejauh mana penemuan manuskrip dan penelitian atas berbagai artefak peradaban di masa lalu berhasil didapatkan.
Genre ini sebetulnya merupakan gerakan ‘non-art’ yang menisbikan konsep estetika. Lahir istilah ‘avant-garde’ oleh seorang pelukis Perancis, Henri de Saint-Simon di tahun 1825 saat ia membentuk kumpulan seniman, ilmuwan dan industrialis yang mendukung pikiran-pikiran terbaru (Manifesto Avant-Garde). Sikap pendobrakan terhadap pemahaman konvensional atas seni ini dimulai. Semenjak kehadiran Salon de Refusés di tahun 1863 di Paris, dimana sekelompok pelukis menyatakan dirinya sebagai para seniman ‘avant-garde’ dan menolak Paris Salon dalam ruang-ruang akademis, berlanjut hingga beberapa kala kemudian. Ubu Roi karya Alfred Jarry yang ditampilkan di Paris, 1896 menunjukkan pengaruh pemikiran ini.
Setengah abad kemudian atau beberapa dekade sebelum ‘kelahiran’ performance art, gerakan ‘anti seni’ ini muncul kembali ke permukaan dan lebih dikenal sebagai anti kemapanan berikut protes terhadap kaum fasis yang dianggap hipokrit dengan berbagai propaganda mereka sebagai bualan semata.
Genre ini tumbuh di antara bangsa-bangsa di Eropa (antara lain Jerman, Itali dan Perancis) sebagai keberadaan selanjutnya sebagai sebuah peradaban baru setelah terputusnya masa peradaban Romawi. Bangsa-bangsa ini memang tercatat melahirkan genre-genre baru dari abad ke abad kemudian pada masing-masing wilayahnya sekaligus saling terpengaruh dan mempengaruhi serta menciptakan genre-genre baru berikutnya, khususnya di Perancis dan Itali. Hingga kini genre-genre tersebut menjadi pola dan patron dasar pada berbagai kurikulum studi seni di seluruh dunia, serta merta mengembangkan ‘peradaban’ seni yang semakin global, meski para senimannya berada dalam atmosfer tradisi masing-masing.
Cabaret Voltaire di Zurich (kemudian hijrah ke Munich) adalah model awal keberadaan leburnya berbagai bentuk seni yang memecahlantak paham konvensional di Eropa.
Semenjak “Manifesto Futuris” terbit di Le Figaro, 20 Februari 1909 --dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Jepang— para seniman dan intelektualis avant-garde makin menyatukan persepsi dan meruncingkan pemikiran.
Pada tahun 1910, saat F.T. Marinetti, penyair Italia dan pendiri Futurisme, melihat karyanya, ia pun menyadari bahwa halaman sebuah majalah telah berubah ke ruang rupa sebagai akibat ketidaktentuan. Manifestonya yang sangat berpengaruh "Parole in Liberta" (Worlds in Freedom) diterbitkan di 1912. Kata-kata berkaitan, halaman sebagai ruang seni dan pembaca –-waktu yang terkontrol dalam sebuah dokumen— dipublikasikan dalam ribuan copy dan ditujukan untuk audiens khalayak luas.
Para pelukis dan penyair futurist di Italia serta masyarakat kota Venesia turut hanyut saat 800.000 pernyataan "Against Past-Loving Venice" tersebut disebarkan di atas mereka. Kesadaran ingin lepas dari belenggu masa lalu dengan menghancurkan gudang sejarah dan rengkuhan teknologi, membuat mereka membawa kehidupan seni ke jalanan.
Sejalan bagi kaum Dada [dipelopori oleh penyair Rumania, Tristan Tzara di Zurich bersama gerakan rekan-rekan Prancisnya a.l.: André Breton dan tiga rekannya --Marcel Duchamp, Francis Picabia, dan Man Ray-- yang kemudian membawa spirit gerakan ini dari Paris ke New York] yang berpikiran bahwa absurditas perang adalah kesia-siaan meng-agitasi para kaum borjuis dalam melawan agresi kaum fascist. Kaum futuris dan dadais menggunakan performance dan hasil kreasi sebagai gerakan (sikap) dalam menghadapi kepuasan atas diri sendiri (confronting complacency).
Di antara perang dunia, performance art menjadi aspek penting kurikulum Bauhaus dalam workshop teater Oskar Schlemmer's, di mana ditekankan kumpulan dan penyatuan semua bentuk kesenian. Setelah Perang Dunia II, performance art menjadi kawasan ujian bagi ide-ide seni kepedulian dan bukan seni [non-art], sebagai identitas politik dan tuan rumah isyu-isyu politik dan estetik lainnya.
Di masa-masa tersebut istilah performance art belum digunakan. Term ‘conceptual art’ telah digunakan oleh Marcel Duchamp semenjak 1913 untuk menjelaskan karya ‘ready-mades’nya dalam pertimbangan estetika dari bahan dasar pengkaryaannya yang sudah barang jadi dan ia tampilkan kembali sebagai sesuatu yang baru. Duchamp juga menyatakan proses tersebut, yakni ‘real-life activities’ sebagai seni. Tahun 1921, Duchamp melakukan aksi mencukur rambut bagian belakang kepalanya hingga berbentuk bintang.
Performance adalah pilihan kata untuk menunjukkan proses terbitnya genre baru ini, khususnya di Amerika. Beberapa orang menyebutnya dengan action art (ini sebetulnya istilah lain dari action painting yang antara lain kerap dilakukan Jackson Pollock –seniman Amerika--yang beraliran abstract expressionism).
Di tahun 1949, pelukis Jackson Pollock menjadi perhatian karena ulahnya saat proses melukis. Ia acapkali menyemburatkan cairan tinta dari kaleng (tak lagi menggunakan palet) ke atas kanvas yang terhampar di dinding, lantai dan sebagainya dalam studio Long Islandnya.
Foto-foto [oleh Hans Namuth] tentang kegiatan Pollock tersebut baru dipublikasikan di tahun 1951.
Menuju tahun ‘60, muncul para seniman ‘happenings’. Tahun 1952, komposer John Cage menyebarkan ide-ide tentang performance dan antar disiplin seni. Melalui pengajarannya di New York's New School of Social Research dan North Carolina's Black Mountain College, Cage mempengaruhi sejumlah besar seniman memasuki wilayah seni performance, tak lagi berujud performing art. Cage dan pasangannya Merce Cunningham mengawali kreasi multi media berjudul Theater Piece No. 1. Karya ini menyertakan berbagai macam disiplin seni antara lain puisi, lukisan dan tari serta memecah jarak antara audiens dan para performer. Sejak itu karya mereka tersebut menjadi model performance.
Di Eropa, sejarah seni menyertakan kaitan erat muatan retorika politik di dalamnya, khususnya Perancis. Simone de Beauvoir, Jean Genet dan Jean-Paul Satre menyebutnya ‘combative art’ sebagai bagian dari sebuah revolusi politik dan artistik.
Eksistensialisme merebak di tahun 1950an. 1954, di Paris, Georges Mathieu melakukan performance dalam gerak teatrikal dengan menyapukan tubuhnya ke atas kanvas.
Semangat penganut Sartre [Sartrian Existentialism] juga menyulut salah seorang seniman bernama Yves Klein dengan menyelenggarakan pameran di tahun 1958 di Paris berjudul “The Void”, berupa ruang basuh putih dalam galeri kosong.
Di sebuah desa di Italia (1957), muncul gerakan perubahan artistik dan politik internasional berjuluk Situationist International [SI]. Gerakan ini berbaur dengan sekelompok kecil nan ekstrim antara lain the Lettrist International, International movement for an imaginist Bauhaus, dan London Psychogeographical Association. Pembauran ini mempengaruhi CoBrA, Dada, Surrealism, Fluxus. Para performer di masa ini lebih sering disebut sebagai situationist.

Jurnal Internationale Situationniste mendefinisikan situationist sebagai "having to do with the theory or practical activity of constructing situations." serta definisi situationism adalah "a meaningless term improperly derived from the above. There is no such thing as situationism, which would mean a doctrine of interpretation of existing facts. The notion of situationism is obviously devised by antisituationists."

Di akhir 1960-an, mahasiswa dan seniman radikal Perancis menggelar happenings 24 jam berjudul Modernisme di jalan raya depan Universitas Sorbonne, Paris.
Happenings mengaburkan garis batas antara performer dan audiens, performance dan realitas. Salah seorang murid John Cage, Allan Kaprow tampil dengan karya 18 Happenings in 6 Parts-nya di tahun 1959, lebih eksperimental berupa tayangan slides, tari, musik, rasa dan bau. Herman Niitsch, perupa Austria mempersoalkan keberadaan material actions dan material happenings dengan menggabungkan tuangan cat yang dianggapnya material concrete dan bukan merupakan media ekspresi menjadi sebuah performance art.
Tahun 1960 dianggap sebagai tahun yang mengawali produktivitas performance secara resmi sebagai sebuah seni ulah. Muncul foto “Leap Into The Void” (1960) karya Harry Shunk berupa aksi Yves Klein di Paris saat ia akan ‘terjun bebas’ dari sebuah atap rumah sebelum terjerembab di atas jalanan.
Kemudian di tahun yang sama, Yves Klein dalam “Anthrometries of the Blue Period; The Painter of Space Hurls Himself into the Void” (Paris, 1960) menyertakan tubuh-tubuh nudis nan molek para model perempuan sebagai kuas yang memoleskan tinta biru di atas kanvas yang terbentang lebar di lantai. Karya ini dianggap sebagai aksi awalnya bagi publik dalam koridor performance art.
Sepanjang tahun 1960-an, beberapa dekade setelah timbulnya aliran Dada, terjadi pemberontakan para seniman beberapa kota di Eropa dengan identitas ‘co-br-a’ (Copenhagen-Brussel-Amsterdam). Di Jerman, digunakan istilah-istilah Happenings, Aktionen, Art Aktuel, Art Total atau Fluxus.
Beranjak menuju tahun 1970-an, beberapa dekade setelah timbulnya aliran Dada dan pemberontakan para seniman beberapa kota di Eropa dengan identitas ‘co-br-a’-nya di tahun 1960-an, Joseph Beuys, Yoko Ono dan Nam June Paik turut mengembangkan ruang performance art ini, dikenal sebagai fluxus artists. Fluxus didirikan di tahun 1962 oleh George Maciunas (1931-1978), seorang seniman Amerika-Lithuania yang hijrah ke Jerman. Fluxus juga mengakar di Jepang.
Wolf Vostel mengawali gerakan ini di Jerman berikutnya bersama Nam Jun Paik --seniman asal Korea yang masa kecilnya hingga kuliah tinggal di Jepang, sebelum pindah ke Jerman--, beberapa tahun sebelum Paik memulai gagasannya di Amerika setelah penemuan video --terkenal hingga kini, yakni selaku penemu dan ‘bapak’ video art (seni video).
Performance para seniman tersebut berbeda (dibanding dengan ‘happenings’), lebih personal, mengangkat hal banal yang menyembunyikan keindahan estetiknya sama sekali. Perkembangan ini kemudian yang semakin menarik benang merah lebih tegas lagi atas bingkai performance art.
Genre yang muncul di saat post perang dunia ke-2 ini adalah situasi yang tak disadari telah mengkondisikan sikap revolusif bagi beberapa seniman atas berbagai bentuk kemapanan dan pikiran konservatif dalam dunia seni, khususnya seni rupa.
Para seniman menempatkan dirinya sebagai artis avant-garde, pendobrak awal sekaligus postmodernist. Istilah avant-garde yang semula digunakan dalam militer bagi pasukan terdepan agar segera memasuki kawasan musuh dan menyerangnya, menjadi ranah tersendiri di antara main-stream yang ada. Seni menjadi sesuatu yang perlu di-oposisi. Terkadang menampakkan sikap anti-seni, yang sebetulnya terjemahan bebasnya adalah anti-konvensional. Hal ini adalah sebuah proses dialektika yang terus menerus terselenggarakan dalam menyikapi kesadaran akan berbagai hal --yang hadir di dunia ini-- sebagai sesuatu yang sementara saja, hanya pada jamannya, bersifat kontemporer.
Genre baru ini muncul dalam kibaran bendera seni kontemporer, sebuah aliran anti kemapanan. Aliran ini juga menjadi sublimasi bagi masalah gender, ras, sexualitas, identitas dan sejarah personal yang disadari atau tidak telah mengkondisikan perkembangan feminisme bagi para radical feminist dan lesbian. Sudah lebih dari setengah abad, mazhab ini masih hidup dengan berbagai perkembangannya hingga kini.
Performance art menduduki wilayah khusus. Pada beberapa acuan referensi ia diletakkan berada dalam naungan zona seni rupa. Seni ini muncul saat para perupa tak lagi merasa cukup katarsis dengan media seni rupa mereka. Mereka pun hadir dengan membawa tubuh mereka sebagai medium ekspresif. Berbagai atraksi yang ditunjukkan merupakan realita maya. Aksi yang terjadi bukanlah an sich seperti yang terlihat atau yang terpersepsi, namun jauh di balik (beyond) itu terdapat makna atau pesan yang ingin disampaikan. Siratan gagasan ini adalah bentuk deskriptif sebuah ide yang secara konseptual dibangun melalui tubuh sebagai mediumisasi, tak lagi melalui alat-alat seni rupa (seperti kanvas, cat, patung, dsb.). Gagasan ini dikembangkan sejalan dengan perkembangan feminisme dan homoerotisme yang lebih mengeksplorasi tubuh sebagai seni itu sendiri.
Mereka (para pelaku performance art) pun hadir dengan membawa tubuh (mereka) sebagai medium ekspresif. Berbagai atraksi yang ditunjukkan merupakan realita maya. Aksi yang terjadi bukanlah penampilan an sich seperti yang terlihat atau yang terpersepsi, namun jauh di balik (beyond) itu terdapat makna atau pesan yang ingin disampaikan. Siratan gagasan ini adalah bentuk deskriptif sebuah ide yang secara konseptual dibangun melalui tubuh sebagai mediumisasi, tak lagi melalui alat-alat seni rupa (seperti kanvas, cat, patung, dsb.). Gagasan ini dikembangkan sejalan dengan perkembangan feminisme dan homoerotisme yang lebih mengeksplorasi tubuh sebagai seni itu sendiri. [Hal ini berdasar pada konsep para homoseksual dalam mempertanyakan keberadaan fisik mereka, sehingga mereka menggunakan tubuh mereka sendiri sebagai sebuah medium ekspresif] Hasil pemikiran Freud juga cukup kuat mengacak-acak pikiran di masa ini. Para seniman homoseksual umumnya disebut sebagai queer artist (Queer = gay, lesbian, transgender, atau juga biseksual).
Konsep yang dibangun para performance artist adalah berada dalam ruang struktur konsep sebelumnya, atau konsep dalam konsep, katakanlah konsep berbingkai. Konsep ini lahir dari gagasan yang terkonsep. Performance art adalah conceptual art atau idea art (penggagasnya adalah Sol LeWitt*)
*--terkenal dengan minimal art-nya--, yang kemudian menjadi gerakan di pertengahan tahun 1960an -- meski pun Duchamp di tahun 1910an dan 1920an telah memulainya dengan karya-karya instannya yang diambil dari benda-benda ready-mades, dan hadir sebagai karya baru yang sangat konseptual (art object), sekaligus awal mula proses kelahiran seni instalasi.

Tubuh di sini menjadi medium konseptual, yang memiliki aneka rupa fungsi konseptual sebagaimana sebuah sistem dengan struktur organ-organnya. Sistem ini yang dipercaya dapat memproduksi aneka macam gagasan mengenai konsep-konsep baru. Gagasan-gagasan ini pun lahir dari konsep-konsep yang telah terstruktur dan terbangun apa adanya sejak awal hingga proses perkembangannya terdahulu sebelum menjadi gagasan. Kelahirannya tetaplah berupa konsep.
In conceptual art the idea or concept is the most important aspect of the work. When an artist uses a conceptual form of art, it means that all of the planning and decisions are made beforehand and the execution is a perfunctory affair. The idea becomes a machine that makes the art. [Sol LeWitt]

Maka arti penggunaan tubuh sebagai medium dalam performance art sangatlah jamak. Performance artist bebas menginterpretasikan hal ini. Eksplorasi tubuh dapat dilakukan dengan cara bermacam-macam. Setiap seniman berhak memperlakukan tubuhnya dalam forum ini, apakah dengan telanjang atau pun melakukan kekerasan terhadap tubuhnya sendiri. Termasuk pengambilan gagasan dan pembangunan konsep-konsep baru yang bertujuan membuat penyadaran bagi audiens. Hal ini juga merupakan upaya eksplorasi tubuh. Pikiran dan sejuta gagasannya dalam otak di ruang tempurung kepala, termasuk bagian dari tubuh sekaligus mediumisasi, yakni menggunakannya sebagai alat produksi karya performance art.
Semenjak tahun 1970an, muncul istilah ‘body art’. “Body Works” merujuk pada “Variously called actions, events, performances, pieces, things, the works present physical activities, ordinary bodily functions and other usual and unusual manifestions of physicality. The artist’s body becomes both the subject and the object of the work”, demikian menurut ulasan di majalah Avalanche terbitan Kalifornia di tahun 1970 (Carlson, Marvin : 1996).

Istilah performance art mulai jamak digunakan. Di tahun ‘70an tersebut, didirikan Museum of Conceptual Art di San Fransisco –oleh Tom Marioni--, sebuah pusat penting bagi eksperimen dalam seni. Area Teluk San Fransisco menjadi pusat ‘life art’. Di Washington tahun 1975, Kaprow memimpin sebuah panel diskusi yang bertajuk “Performance and the Arts” dan menyertakan Acconci, Yvonne Rainer dan Joan Jonas. Mereka sepakat bahwa ruang yang digunakan dalam “performance” adalah ‘lebih sering menjadi semacam sebuah ruang kerja daripada sebuah setting teatrikal secara formal’. Para performance artists menolak “the dramatic structure and psychological dynamics of traditional theatre or dance” dan memfokuskan diri pada “bodily presence and movement activities”.
Performance art pada perkembangannya kemudian menjadi menarik dan menganak pinakkan ranting-ranting mau pun situs-situs baru komunitas performance artist di berbagai penjuru dunia. Eropa Barat dan Jepang serta Amerika tetap menjadi pusat-pusat kelahirannya. Hadir berbagai festival secara berkala mau pun insidental. Negara-negara sosialis di Eropa dan khususnya Eropa Timur lebih banyak membawa porsinya akibat pengaruh sejarah politik mereka. Misalnya Polandia, Rumania, Finlandia, Kazakhstan dan seterusnya. Di negara-negara ini performance art yang ditampilkan cenderung lebih radikal dan tajam. Di negara-negara lainnya dan Amerika tidak se-ekstrim itu.
Meski demikian, diskusi dan debat serta riset mengenai istilah berdasarkan bentuk performance art ini belum juga habis dibicarakan selama lebih dari 30 tahun sejak kelahirannya, bahkan di Barat.

Di Timur [Asia]
Setelah merambah Asia, performance art menjadi lebih berkembang lagi. Akibat pengaruh Dada dan Surealism, Jepang termasuk negara pionir. Di Jepang (1955), pameran pertama kelompok Gutai --gerakan action art di Jepang didirikan oleh Jiro Yoshihara di tahun 1954-- menyertakan Kazuo Shiraga dalam ‘mud paintings’ (Challenging Mud) bersama Murakami Saburo (At One moment Opening Six Holes).
Tahun berikutnya Shiraga melukis dengan kakinya bersama seniman Gutai lainnya, Shozo Shamomoto yang memecahkan botol cat ke atas kanvas. Atsuko Tanaka mengenakan kimono Jepang yang dibalut dengan serangkaian kumparan dan sulur kabel ke sekujur tubuh serta busana tradisionalnya (Electric Dress).
Karya yang dihadirkan di Takamatsu City Museum of Art ini merupakan respons terhadap perkembangan teknologi bagi peradaban manusia. Yoko Ono menginstruksikan audiens untuk duduk di atas sebuah benda kubus (box) dan menjadikan mereka sebagai partisipan aktif dalam penyelesaian karya seninya saat dipamerkan di Ohara Kaikan Hall, Oktober 1958 dalam sebuah pameran ke-dua yang diselenggarakan kelompok Gutai. Menjelang akhir 1960, Kuniharu Akiyama, Toshi Ichiyanagi dan Toru Takemitsu menggabungkan performance art dan happenings dengan berbagai idiom antara lain berupa film dokumenter amatir, asap, tuangan cat, musik dan teater yang ditampilkan di Osaka dan Tokyo. Di sebuah galeri di Tokyo (1962), Kazakura Sho memamerkan tubuhnya diam telanjang di ruang galeri sebagaimana art object. Pameran bertajuk “The Real Thing” ini mengundang protes dan polisi menutup pintu luar galeri. Nam June Paik yang nota bene orang Korea namun tumbuh dan berkembang di Jepang adalah salah satu penggerak dan kunci pengaruh besar dalam ruang performance art pada generasi berikutnya setelah kelahiran Gutai. Komposer yang hijrah ke Jerman ini mengawali gebrakan seninya di ruang instalasi dan action art sebelum kemudian mematahkan stigma universal tentang kemajuan teknologi, khususnya perangkat televisi. Kesadarannya ini membawa kreasinya makin inovatif sekaligus provokatif dalam menyodorkan kesadaran performatif tentang kehidupan dan pikiran manusia dalam pita seluoid yang baru ditemukan saat ia tengah hijrah ke negeri Paman Sam. Semenjak itu sang fluxus artist ini dikenal sebagai ‘bapak’ video art. Sama halnya dengan Yoko Ono yang kemudian mengikuti perkembangan ini sekaligus menjadi bintang dalam setiap performanya, tak hanya di Jepang namun juga di Amerika dan Eropa. Pertemuannya dengan John Lenon membuahkan karya performance art berjudul “Ranjang Perdamaian” (Bed for Peace).
Hingga beberapa warsa kemudian jejak kelompok Gutai masih diikuti oleh beberapa kelompok di Jepang antara lain Zerokai (Group Zero), Kyucha-ha (Kyushi School), Neo-Dadaism Organizers (or Neo-Dada Organizers), Zerojigen (Zero Dimension), and Taka-Aka-Naka (Hi-Red-Center).
Sampai saat kini Jepang masih sibuk dengan berbagai peristiwa performance art. Sebut saja NIPAF [Nipon International Performance Art Festval] yang dikoordinasikan oleh Seiji Shimoda secara periodik dan mengawali kembali intensitas pengkajian performance art di Jepang. Semenjak penyelenggaraan NIPAF di Tokyo pada tahun 1993, Seiji menawarkan kembali konsep-konsep performance art dalam membungkus sekaligus medium ekspresi dalam merespons persoalan sosial di negaranya. Penawaran ini disambut bagai sebongkah bola salju yang menggelinding. Meski mengundang sikap pro dan kontra, baik publik luas mau pun secara internal, performance art menjadi kawasan yang terus ditekuni oleh komunitasnya yang kini makin menjaring anak-anak muda di Jepang dan negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Beberapa forum festival berkala kemudian diselenggarakan di beberapa negara di Asia Tenggara sebagai campur tangan Seiji dalam menanamkan jaringannya (antara lain PIPAF di Phillippina dan JIPAF di Indonesia). Seorang kritikus, Jay Koh sempat menyebut Seiji sebagai imperialis turisme budaya (imperialist cultural tourism) melalui model pelenggaraan ‘IPAF’ (Langenbach: 2003:6). Arai Sin-ichi juga merupakan nama lain saat ini yang tengah mengembangkan jaringan manajemen sendiri dalam forum performance art internasional, selain di Jepang.
Filipina adalah negara yang berkemungkinan besar merupakan negara pionir dalam keberadaan performance art di Asia Tenggara. Di Inggris (1970an), seorang artis Filipina bernama David Medalla mengembangkan karya instalasi kinetik dan peristiwa mesinnya atau mesin persitiwa (machine-events) tentang 1960an. Artis ini melibatkan diri dalam ruang kelompok Fluxus dan Informel hingga dikenal dan cukup berpengaruh bagi inspirasi para seniman setempat, termasuk Tang Da Wu asal Singapura.
Perkembangan seni kontemporer di negara bekas jajahan Spanyol ini diperkirakan telah ada sejak munculnya karya performance-for-video di tahun 1967 berdasarkan riset Van Erven (Langenbach, 2003:6). Saat itu Philippines Educational Theater Association (PETA) yang memiliki inisiatif, antara lain dengan berbagai produksi street-drama. Tahun 1985, penampilan Alwin Reamillo menjadikan inspirasi bagi salah satu artis negara tetangga, Singapura, yakni Vincent Leow dalam performanya di tahun 1988. Juan Mor’O adalah penyelenggara Phillippines International Performance Art Festival (PIPAF) untuk pertama kalinya. Kini nama performer Filipina yang acapkali menyelenggarakan dan mengikuti forum-forum performance art dunia adalah Mideo M Cruz.
Semenjak kehadiran performance art di Singapura oleh Tang Da Wu di tahun 1982 dan 1985 oleh Vincent Leow, beberapa institusi pendidikan seni memberikan kurikulum studi performance art sebagai mata kuliah dalam akademikanya. Di Singapura saja sudah diajarkan di LASALLE SIA College of Art dan Nanyang Academy of Fine Art (NAFA) sebagai upaya sosialisasi terhadap publik seni dan masyarakat umum. Sebelumnya di tahun 1900an, setelah kasus Joseph Ng dan mengakibatkan protes keras dari masyarakat didukung oleh pemerintah, telah masuk dalam studi di Division of Art, School of Humanities, National Institute of Education, Nanyang Technological University. Performance art sempat vakum hingga awal 2000an di tanah singa ini karena dilarang dipertunjukkan, meski wacana (diskursus) mengenai performance art tetap digalang, meski secara ‘gerilya’.
Pengaruh Dada memunculkan sebuah kelompok bernama Xiamen Dadaist pada tahun 1983 di Cina. Pengaruh ini menyulut ketidakpuasan para seniman atas kondisi politik yang ada saat itu. Kemuakan telak atas rezim Mao membawa para seniman tersebut menggelar karya mereka di China Art Gallery, 1989, dalam tajuk pameran “China/Avant Garde”. Beberapa seniman menembakkan peluru ke lukisan mereka hingga koyak sebagai sebuah aksi performance. Aksi para seniman yang menghebohkan ini membuat beberapa seniman hengkang dari negeri sendiri menuju Eropa. Namun aksi tersebut menjadi inspirasi yang tak habisnya hingga kini pun bagi para seniman muda di Cina. Ma Liu Ming adalah salah satu performer muda yang terkenal dengan penampilan nudisnya. Paras pemuda yang cantik ini tak berekspresi sama sekali dan duduk diam di panggung bersama para audiens yang bergantian duduk berdampingan bersamanya dalam sessi foto bersama hingga selesai. Namun nama yang sangat dikenal adalah Chen Jin sebagai salah satu tokoh dalam performance art yang sangat mengundang sikap kontroversial di forum internasional. Salah satu performanya yang sulit diterima masyarakat Barat sekali pun yaitu melahap jenazah bayi mungil sebesar botol yang masih utuh.
Hsieh Tehching adalah performance artist asal Taiwan yang telah 20 tahun lebih menekuni bidang ini selama di New York. Karya-karyanya yang lebih sering menampilkan tubuhnya sebagai medium (body art) merupakan aktualisasi diri atas statusnya selaku imigran gelap di Amerika. Konsep Hsieh acapkali menjadi inspirasi beberapa performer dari Asia.
Hong O-Bong adalah nama performance artist dari negara Korea dengan karya-karyanya yang selalu menyertakan alam dan masyarakat. Pengajar di Chungbuk University ini adalah penyelenggara acara BIPAF (Bucheon International Performance Art Festival) dan KIPAF (Korea International Performance Art Festival).
Di Thailand, pengaruh Joseph Beuys sempat menjadi referensi Chumpon Apisuk bersama Apinan Poshyananda di tahun 1986 berkarya bersama melalui video berjudul “Teaching Art to the Bangkok Cock”. Di akhir tahun 1980an, Vasan Sitthiket menyatakan dirinya telah menampilkan beberapa karya performance artnya sebagai demontrasi politis. Asiatopia Performance Art Festival adalah sebuah festival rutin bertaraf internasional yang diselenggarakan di Bangkok semenjak 1998 oleh Concrete House hasil koordinasi Chumpon. Penyelenggaraannya yang ke-7 tahun lalu (24-27 November, 2005) menyertakan South East Asia Performance Art Symposium (SEAPAS) yang pertama. Sekitar 250 orang dari berbagai negara di Asia Tenggara telah menjadi partisipan dalam acara tersebut hingga kini, antara lain tercatat dari Kambodja, Cina, Jepang, Korea, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Taiwan, Vietnam, Thailand sendiri dan Indonesia serta partisipan dari luar Asia. Pemerintah setempat mendukung sepenuhnya acara tersebut. Terlebih semenjak Apinan menjabat sebagai Direktur Jendral Bidang Budaya dan Seni Kontemporer di Kementerian Budaya negeri Gajah Siam ini.
Myanmar aktif dalam performance art semenjak masuknya para organizer acara performance art dari Singapura (Jay Koh) dan Malaysia (Chu Chu Yuan) di bawah bendera NICA (Networking & Initiatives for Culture & the Art) di Yangoon. Para senimannya antara lain: Cho Cho Aung, Ko Nyein, Mrat Lunn Hlwann, Tin Muang Oo, Moe Satt, Than Htay Maug, Nyo Win Maug, Phyu Mon, Nyan Lin Htet.
Vietnam, negara yang sempat lama dinaungi budaya komunis dan masa perang Vietnam, para senimannya tak lepas dari komunikasi dan informasi mengenai genre ini. Tran Luong adalah pemerhati pertama yang telah melakukan program, riset dan observasi umum tentang performance art melalui Arts NetWork Asia.
Indonesia merupakan kawasan unik bagi performance art. Para senimannya telah banyak memiliki predikat sebagai seniman internasional dengan kehadiran mereka di berbagai forum dunia di berbagai negara. Komunitasnya baik per individual juga makin marak dan sporadis di berbagai daerah, baik Bandung, Yogyakarta dan sebagainya. Uniknya adalah persepsi publik umum dan publik seni bahkan para pelakunya seringkali terabaikan dengan ketidakmeratanya persepsi yang sama dalam pengetahuan dasar dan sejarah performance art. Itu sebabnya, meski beberapa aksi merupakan inspirasi dari keberadaan performance art dari luar negeri (Barat), namun keberadaannya di negeri sendiri belum menjadi satu kata sepakat atas istilahnya itu sendiri. Sehingga wacana atas hal ini seringkali tak tersentuh publik luas dan belum diketahui pasti kapan sebetulnya waktu mula masuknya performance art di Indonesia sebagai inspirasi dari luar negeri.
Di Malaysia, performance art masih menjadi perdebatan bahkan konflik dalam keberadaan wacananya. Sikap pro dan kontra masih terus berlangsung di masyarakat, antara lain oleh pihak pemerintah melalui pantauan ‘polisi moral’ mereka. Meski begitu, komunitas Rimbun Dahan di Selangor pernah memberikan peluang residensi bagi para seniman lokal dan internasional, termasuk Arahmaiani selaku performance artist Indonesia. Hingga saat ini, baru pertama kalinya di tahun 2006 ini mereka menyelenggarakan acara bertaraf internasional bertajuk SatuKali Performance Art Festival di Kuala Lumpur. Acara ini terdiri dari simposium, workshop dan performance yang kemudian di hari terakhir terpaksa ditutup keberlangsungannya oleh polisi setempat dan kasus ini diangkat ke pengadilan.

Di Indonesia

Istilah performance art
Menurut beberapa ensiklopedia seni dari Eropa dan Amerika, performance art tidak masuk dalam kategori performing art yang mengandalkan susunan kreasi berdasarkan plot, dramaturgi, ritme, dan berbagai tehnik teatrikal lainnya, seperti opera, tari, paduan suara, konser dan lain sebagainya, meski pun kehadirannya menyertakan materi tersebut sebagai bahan, bukan sebuah ‘barang jadi’.

[Kata ‘performance’ bermakna ‘pertunjukan’; ‘perbuatan’; ‘hasil’; ‘pelaksanaan’; ‘penyelenggaraan’; ‘pergelaran’, demikian dalam kamus besar bahasa Indonesia, sedangkan menurut kamus bahasa Inggris berarti: the act or manner of exhibiting an art, skill, or capacity; an action, deed, or thing done, the act of performing or condition of being performed]

Performance art lebih merupakan sebuah karya reduksi dari berbagai hal (bentuk, faham, filosofi, teori, pemikiran) yang telah mapan. Ia banyak memecah dan mendobrak benteng-benteng dan puri agung paradigma lama hingga seringkali dicap sebagai karya anomali. Padahal semua karya manusia tak pernah lepas dari semiotika.
Berbeda dengan performance art, konsep dalam performing art adalah konsep yang tertata apik, tidak lagi melalui atau pun melahirkan ruang konseptual baru. Performing art berada dalam bidang yang sama sekali lain dengan performance art, karena produknya lebih artifisial dan welldone. [Performing adalah sebuah kata sifat yang berarti: ‘mempertunjukkan’. Performing art = seni mempertunjukkan, demikian menurut kamus terjemahan Inggris-Indonesia, namun hingga kini terjemahannya adalah ‘seni pertunjukan’. Terjemahan ini sudah selayaknya dikaji ulang agar tidak terjadi salah paham yang berkelanjutan.]

Catatan:
Selama observasi ini (sebelum penulisan laporan), penulis tidak menggunakan terjemahan dalam bahasa Indonesia, karena ada kemungkinan bahwa pemaknaan istilahnya selama ini rancu.
Penulis dalam tulisan ini hanya menceritakan rangkuman garis besar sejarah berdasarkan data yang ada. Sejarah performance art meliputi data yang sangat luas hingga ke detil-detilnya, karena satu dan lainnya saling berkaitan dengan berbagai aspek dan situasi yang menyelimutinya di tiap titik. Kumpulan data yang sangat luas ini melahirkan berbagai persepsi dan interpretasi yang beraneka, termasuk persepsi dan interpretasi penulis. Setelah melakukan berbagai observasi baik langsung mau pun studi pustaka, penulis membatasi istilah performance dan performance art untuk masing-masing kasus.

Performance digunakan untuk setiap kasus penampilan (menampilkan aksi atau objek, atau ‘ulah sebuah obyek sebagai subyek’), yang bisa berarti performance (performa) seorang atlet, pembalap atau binaragawan, produk obat, iklan dan sebagainya.
Menurut penulis, performance art lebih merujuk pada ‘seni penampilan’. Ini lebih konseptual karena menyandang kata ‘seni’ atau ‘art’ sebagai beban makna tersendiri selain kata 'performance’. ‘Seni’ sebagai institusi tersendiri --kata pertama-- yang menerangkan ‘penampilan’ –kata ke dua-- (yaitu kata benda yang berarti: ‘proses’; ‘cara’; ‘perbuatan’ menampilkan –bertalian dengan prefiks verbal me-) konsep si penampil, bukan sekedar performer/ pelaku dalam performance, tapi ‘performance artist’. Hal ini karena setiap performance belum tentu berbobot seni (misalnya: ‘performance pak direktur tadi sangat hebat’, atau ‘performance kecepatan mobil itu sungguh prima’).
Pembatasan ini perlu saya lakukan karena seringkali terjadi bias dan penyederhanaan makna konseptual. Performance art berpangkal dari pemahaman anti-estetika, yang berarti sangat menolak ‘jauh-jauh’ dan lepas dari segala kaidah seni (anti Art). Hal ini berarti berbagai unsur artifisial macam tari, teater, musik, sastra dan dramaturginya sama sekali tidak termasuk dalam setiap penampilan para performance artist. Keindahan performance art hanya pada konsep semata. Jadi penggunaan kata art atau seni di sini menjadi sangat penting, karena menerangkan ‘performance’ yang sebetulnya sangat memporakporandakan pengertian ‘pertunjukan’ secara konvensional. Meski performance art dapat saja mengikutsertakan unsur tari, musik, nyanyi dan sebagainya, namun tetap bukan merupakan ‘seni pertunjukan’, karena bukan tarian atau musiknya yang menjadi obyeknya.
Atas dasar pemikiran tersebut pula, penulis tidak menggunakan terjemahan ‘performance’ sebagai ‘pertunjukan’. Berdasar pada sejarah dan realitas yang saya dapat, lebih mudah bagi penulis untuk me’reduksi’ terjemahan kata ‘performance’ sebagai ‘penampilan’, bukan ‘pertunjukan’ (bertalian dengan prefiks verbal ber-). Apalagi kata dasar ‘tunjuk’ bersinonim dengan kata ‘tuding’ atau ‘mengacungkan jari telunjuk’. Kata ini berasosiasi ‘obyek’ semata.
Sementara kata ‘tampil’ di sini (menurut kamus) bermakna ‘melangkah maju’ (ke muka, ke depan); muncul; menampakkan diri. Selain itu ‘menampilkan’ berarti ‘mengemukakan’ atau ‘membawa ke muka’. Terjemahan ini lebih menguatkan ‘performa’ sang penampil (performer) selaku ‘subyek’, ketimbang sekedar ‘tontonan’. Maka, menurut saya, terjemahan lain dari performance art selain ‘seni penampilan’ adalah ‘seni performa.

Awal Mula Performance Art di Indonesia
Di Indonesia, performance art belum menjadi wacana publik, pun publik seni. Namun kehadirannya cukup sporadis. Meski di Barat sebelum kelahirannya diawali dari ruang-ruang pentas dan berupa pertunjukan (performing) kemudian oleh para perupa, kelahirannya di Indonesia – demikian yang berhasil terdata pada observasi ini-- justru berada dalam koridor seni rupa saja, pelakunya didominasi oleh para perupa.
Maka tulisan ini lebih mengacu pada sejarah seni rupa Indonesia saat mulai terpengaruh oleh kancah seni rupa dari Barat. Sementara, sejarah seni rupa yang hadir kuat hingga saat ini memang masih merupakan dominasi pengaruh Barat, termasuk penyelusuran asal muasal performance art ini. Bersama dengan itu, muncul pula sinyalemen yang menyebutkan kehadiran bentuk seni (dalam bingkai performance art) yang orisinal lahir di negara ini dan dari artisnya sendiri. Tentu saja hal ini masih perlu dicermati secara obyektif, apakah definisi orisinal yang dimaksud merupakan karya asli yang tidak dipengaruhi idiom atau pun bentuk-bentuk seni dari Barat, ataukah merupakan karya modifikasi dan interpretasi baru terhadap bentuk performance art dari Barat?
Namun, benang merah kesamaan yang ada antara sejarah seni rupa Indonesia dan Barat adalah pengaruh kondisi politik yang terjadi. Kondisi ini memiliki efek pantul kuat bertubi-tubi dan mengenai berbagai masalah sosial, ekonomi dan sebagainya serta seterusnya. Selain itu, kebetulan atau tidak, seni rupa di Indonesia merupakan medan terbuka yang terlebih dahulu mendapat pengaruh idiom genre dari Barat, di samping seni sastra.

Sekilas Sejarah Seni Rupa Indonesia
Semenjak Raden Saleh Syarif Bustaman (atau Sayid Saleh bin Husin bin Yahya, meninggal di tahun 1880) banyak mendapat pengaruh tehnik, corak dan gaya dari benua Eropa hingga kepeloporannya bagi masyarakat Indonesia di jalur modernisme (1860, semenjak Edward Manet mengagetkan publik dengan karya lukisnya berjudul Le Dejeuner sur l’Herbe yang menggambarkan acara piknik makan siang di sebuah taman dengan beberapa perempuan nudis) dengan pulasan realis pada karya-karya lukisnya, tak lagi sekadar naturalis romantis, hingga masa Mooi Indie (kembali naturalis) yang dipatahkan oleh S. Sudjojono melalui konsep jiwa kéthok-nya yang juga mengkritik habis karya-karya Affandi, Hendra Gunawan, Basuki Abdullah (1930an). Karya para pelukis yang dianggap ‘maestro’ oleh para pelaku penyebar (baca: penuntun) wacana di berbagai media massa/ publikasi lokal saat itu (hingga kini?) dianggap sangat menjauhkan diri dari ‘jati diri’ Indonesia. S (Sindutomo) Sudjojono mengatakan bahwa seni yang mampu mewakili jamannya adalah yang mampu menyatakan realita yang sesungguhnya, bukan sekedar realita alam nan indah. Pelukis realisme ini bermaksud mengajak bergerak menuju kemerdekaan nasional Indonesia melalui praktek seni. Di masa kolonial Belanda, kelahiran Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia, 28 Oktober 1938) dan aktivitas pamerannya di tahun 1941 di gedung Kunstkring, Batavia (sekarang Jakarta) semakin meraut ujung bambu runcing ‘kebangsaan’ para pelukisnya akibat diskursus wacana berupa ulasan kritik pengamat lukisan dari Belanda (J. Hopman) yang menyatakan bahwa orang Indonesia di Jawa bisa melukis akibat keberadaan pelukis Eropa macam Chagal dan sebagainya. Anggapan ini ditampik Sudjojono dalam tulisannya yang berjudul “Kami Tahu ke Mana Seni Lukis Indonesia akan Kami Bawa”.
Tanggal 1 Agustus 1947, resmi didirikan Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar (kini Fakultas Seni Rupa ITB), ditempatkan di Fakultas Ilmu Pengetahuan Tehnik Universitas Indonesia (Fakulteit voor de Techniche Wetenschappen, kini ITB) di Bandung. Di Yogya, lahir Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI, 1950). Semenjak kedua institusi ini muncul, semakin melahirkan ruang-ruang diskursus yang mampat dan tajam seiring dan sejalan dengan perubahan jaman serta konteksnya dengan berbagai kondisi sosial dan politik di Indonesia, paska kemerdekaannya. Perjalanan sejarah seni di negeri ini makin marak, antara lain dengan munculnya Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, dibentuk 17 Agustus 1950), yang kemudian mengundang maklumat Manikebu (Manifesto Kebudayaan, 1963) oleh Trisno Sumardjo bersama HB Yassin dan kawan-kawan dalam merespon berbagai ide dan gagasan DN Aidit dalam faham seni.

Penyimpangan Konsepsi dalam Kreasi
Konstelasi peristiwa-peristiwa dalam atmosfer seni rupa Indonesia tersebut di atas merunut berbagai bentuk dan jaringan peristiwa-peristiwa berikutnya. Kreativitas para seniman menjadi sublimasi akumulatif, memunculkan paradigma baru sekaligus mematahkan dan memecahkan paradigma lama.
Tahun 1970-an diperkirakan sudah ada peristiwa yang (dianggap untuk sementara) muncul dalam bingkai performance art ini di kota Yogyakarta provinsi Jawa Tengah, sebagai proses katarsis seniman dalam mengejawantahkan akumulasi pikirannya. Kondisi sepanjang jalan Malioboro saat itu masih merupakan ‘panggung seni’ macam jalanan di kawasan Beaubourg, Paris. Tahun 1973 tercatat Danarto (kini lebih dikenal sebagai sastrawan, meski masih melukis) –pelukis yang berdomisili di Yogya saat itu-- memamerkan karyanya yakni berupa kanvas kosong tak berpigura berukuran besar dan menyatakannya sebagai lukisan sekaligus arsitektur dan patung. Seniman lain yang kerap disebut mengawali aksi performance adalah Moelyono. Moelyono menganggap seni modern sebagai sesuatu yang repetitif di tengah status-quo yang ramai membicarakan kreativitas dan penolakan institusi seni (ASRI) terhadap seni rupa alternatif. Ia menggelar karyanya (disebut sebagai ‘seni rupa komunitas’) yang berjudul “KUD” atau “Kesenian Unit Desa” (Feriawan, 2006:54).
Merunut sejarah sebelumnya, setelah melewati fase Paska Perang Dunia ke-2 yang berbuntut periode dekadensi moral kemanusiaan yang kemudian melahirkan cara pandang baru manusia terhadap prinsip-prinsip humanisme, Indonesia juga menandai diri dengan semakin kuatnya motivasi mengenyahkan kolonialisme. Periode ini berlanjut pada realitas modern 1-2 dekade kemudian (periode Soekarno yang dipatahkan periode pemerintahan Soeharto yang kemudian dianggap sebagai sebuah ‘rezim’ oleh sebagian besar masyarakat) yang dicapai melalui proses modernisasi dengan memiliki beberapa komponen utama, yakni industrialisasi, urbanisasi, konsep negara-bangsa (nation-state), struktur birokrasi, pertumbuhan penduduk yang tinggi, sistem komunikasi dan kekuasaan baru, serta pasar kapitalisme dunia (Siregar, Aminuddin TH: 2005).
Sejalan dengan ini, muncul Gerakan Seni Rupa Baru (1975-1979) yang dimotori oleh beberapa seniman muda di Yogyakarta dan Bandung –berawal dari Seni Rupa ITB (Institut Teknologi Bandung) dan ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia, sekarang menjadi ISI/Institut Seni Indonesia) Yogyakarta--, antara lain FX Harsono dan Bachtiar Zainoel. Gerakan ini mendobrak tatanan apik romantisme seni rupa konvensional yang diajarkan di ASRI pada waktu itu. Gerakan ini menentang seluruh tradisi modernisme yang mendasari perkembangan seni rupa Indonesia sejak 1940 hingga 1960 dan tidak ingin lagi berdasar pada tradisi fine art semata. Mereka memberikan penekanan pada kritik sosial sebagai tema utama karya mereka dan mengembangkan ‘message art’ yang berpihak pada masalah kemiskinan perkotaan, pencemaran hidup, ketidakbebasan berpikir dan sebagainya. Ulah para perupa ini macam aliran CoBrA di Eropa (1948-1951) yang ‘mengejek’ keterkungkungan konsep artistik di masa itu yang mereka anggap tidak realistis dengan berbagai persoalan sosial yang ada.
Tahun 1977, di Yogyakarta diselenggarakan pameran seni rupa bertajuk Kepribadian Apa yang mengkritik pemaksaan identitas seni rupa Indonesia melalui institusi resmi dan mempertanyakan formulasi kepribadian Indonesia. Para pelakunya antara lain S. Prinka, Ronald Manulang, Satya Graha, Nyoman Nuarta, Wagiono dan Dede Eri Supria, berikut pemusik Sapto dan Jack Body serta seniman lainnya (Gendut Riyanto, Wienardi, Tulus Warsito, Budi Sulistyo, B. Munni Ardhi, Haris Purnama, Slamet Ryadi, Redha Sorana). Pameran ini ditutup polisi tanpa disertai alasan yang jelas. Di penghujung tahun, Desember 1977, hadir pameran Pelukis Muda Indonesia yang memunculkan karya-karya tiga dimensi berupa seni instalasi sebagai wujud seni rupa baru.
Menyusul penyelenggaraan Pameran Spontan di STSRI (Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia, sebelumnya bernama ASRI). Pameran ini berlangsung melesat keluar dari ruang pameran ke ruang terbuka di halaman gedung sekolah. Mereka melakukan aksi performance berupa pembungkusan patung Aming Katamsi --pendiri akademi seni rupa tersebut--. Aksi ini menjalar hingga ke luar kampus ke kawasan pusat kota, sepanjang Malioboro hingga Pantai Parangtritis.
Penyimpangan konsepsi dalam seni rupa –dalam mempertanyakan fungsi sosial seni dan personal bagi eksistensi perupa-- ini juga berlangsung di Bandung. Tahun 1981 Semsar Siahaan membakar patung karya Sunaryo (Citra Irian dalam Torso) dan membubuhkan judul baru “Oleh-oleh dari Desa II” berikut lembaran-lembaran maklumat selebaran yang disebarkan di sekitar karya yang terbakar. Penyimpangan konsepsi keperupaan ini juga dilakukan Arahmaiani, Acep Zam-Zam Noor, Irawan Karseno, Harry Suliztiarto, Agus Resmonohadi, Nugroho Anggoro, Arfan Zainsyah dan lain-lain. Tahun 1982, Tisna Sanjaya dan W. Christiawan menggambar dan memajang karya-karya mereka di trotoar jalan Cikapundung sembari mengajak dialog para pedestrian yang lewat sebagai perhatian dan ungkap estetika dalam pengkaryaan mereka.
Pada saat itu masih belum dikenal istilah performance art. Di Bandung, lazim digunakan istilah olok-olok macam ‘jeprut’, ‘pèrèngkèl jahé’ dan ‘blah blah war’. Istilah ini menjadi ‘istilah’ yang acapkali digunakan untuk menyebutkan bentuk tampilan aksi yang mengacu pada institusi yang mewadahinya sejak kelompok Pèrèngkèl Jahé mau pun Blah Blah War dibentuk. Hal ini kurang lebih sama dengan kelahiran aliran fluxus yang bermula dari keberadaan kelompok Fluxus di Barat.
Bandung merupakan kota di Indonesia yang memiliki rentetan peta peristiwa dan pelaku yang cukup padat dalam sejarah aksi seni performance. Mata kuliah Eksperimen Kreatif yang hadir di jurusan seni murni ITB pada pertengahan tahun 1970-an oleh G. Sidharta Soegiyo dan kemudian oleh Primadi Tabrani menyodorkan peluang bagi para mahasiswanya bereksplorasi di bidang artistik dan estetika, baik pada bentuk, ruang dan gerak. Eksplorasi gerak dan ruang serta interaksi terhadap publik juga menjadi muatan aktivitas ekstra kurikuler Studi Teater Mahasiswa (STEMA) ITB. Sanento Yuliman adalah salah satu pendiri dan Setiawan Sabana menjadi salah satu anggotanya. Salah satu mahasiswa seni rupa ITB lainnya bernama Suyatna Anirun mendirikan Studiklub Teater Bandung (STB) di luar kampus. STB kemudian menarik banyak peminat tak hanya dari lingkungan ITB namun juga mahasiswa dari berbagai intitusi antara lain dari UNPAD dan IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, sekarang UPI).
Di tahun 1984 STB mengadakan acting course. Salah satu materinya adalah olah tubuh dan olah sukma. Materi ini bertujuan melatih sensitivitas sang aktor/aktris terhadap penguasaan tubuh, ruang (blocking) dan improvisasi tubuh berdasar karakter. Pesertanya adalah antara lain Marintan Sirait, Andar Manik, Diyanto, Tisna Sanjaya dan lain-lain. Pelatihan olah tubuh dan sukma ini kerap dilakukan di luar kursus. Beberapa karya sempat dihadirkan oleh Marintan dan kelompoknya di gedung kesenian Rumentang Siang. Ia menggunakan perangkat sapu, ember sebagai penutup kepala dan sebagainya sebagai properti yang digunakan para performer saat mengolah gerak tubuh masing-masing di atas panggung.
Kelompok Sumber Waras (1988) kemudian lahir sebagai kelompok baru dalam mengembangkan ide-ide baru dalam olah tubuh sekaligus ekspresi keperupaan mereka. Aktivitas mereka umumnya dilakukan dalam keseharian di area Lapang Tengah kampus seni rupa ITB.
Istilah ‘happening art’ [istilah ini tidak dikenal dalam sejarah seni di Barat] lahir di lingkungan mahasiswa seni rupa ITB. Digerakkan oleh Marintan Sirait dan Andarmanik dalam kelompok Sumber Waras tersebut bersama Tisna A Sanjaya, Arahmaiani, dan lain-lain diikuti pula oleh Diyanto, Irawan K. Arseno, Isa Perkasa dan lain-lain.
Para seniman tersebut acapkali melakukan aksi performance di dalam dan luar kampus serta acara Pasar Seni ITB (Institut Teknologi Bandung) sekitar penghujung tahun 1980an. Di tahun-tahun tersebut Arahmaiani dikenal dengan instalasi dan performance “Manusia Koran”nya.
Gerakan eksploratif sekaligus intuitif tersebut segera saja digunakan sebagai salah satu alternatif bentuk medium ungkap oleh para perupa. Istilah jeprut banyak dilontarkan bagi aksi-aksi tersebut. Kemudian lahirlah pula gerak tubuh pèrèngkèl jahé. Gerak ini mengingatkan pada bentuk bongkahan umbi jahé. Penggerak kelompok Pèrèngkèl Jahé ini adalah Isa Perkasa.
Di saat yang bersamaan muncul pula Seni Rupa Lingkungan sebagai sebutan untuk menunjuk karya rupa yang mengeksplorasi ruang. Para perupa yang bergerak di aktivitas ini tidak hanya dari kampus ITB (Tisna Sanjaya, Arahmaiani, W. Christiawan, Isa Perkasa dan kawan-kawan), namun juga IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, kini menjadi UPI/Universitas Pendidikan Indonesia) jurusan Seni Rupa. Bambang Subarnas, Agus Nugraha dan kawan-kawannya se-angkatan 1981 sempat berkarya dalam tajuk “Citra I” di tahun 1982 di halaman gedung Partere (Bumi Siliwangi) dengan merakit, melukis, menyusun material yang mereka sebut dengan seni lingkungan. Nama-nama yang cukup dikenal rajin nge-jeprut di institusi ini kemudian adalah Rudy St Dharma (Uday), Aming D. Rahman dan Yoyoyogasmana.
Dari kawasan Unpad (Universitas Padjadjaran), Diro Aritonang, penyair dan teaterwan menyobek-nyobek ijazah strata satunya di depan kampus di jalan Dipati Ukur sambil membaca puisinya dan menaburi sekujur kepala dan tubuhnya dengan tepung terigu (1985). Sangat profokatif. Miranda Risang Ayu, tokoh drama, penyair dan penulis juga sempat menyuarakan ketidakpuasannya atas konsep NKKBKK dengan membaca puisi dan membakari kursi-kursi kuliah yang ditumpuk di halaman Universitas Padjadjaran.
Jeprut adalah istilah lain dari peristiwa eksplorasi olah tubuh di Bandung saat itu. Kondisi yang menunjukkan sesuatu yang berhenti atau putus tiba-tiba dengan seketika secara mendadak disebut dengan jeprut (dalam Bahasa Sunda). Istilah ini juga acapkali ditujukan bagi ‘orang gila’ (penderita sakit jiwa di taraf putus syaraf memori dan kesadarannya). Bentuk ini pernah dibahas dalam sebuah seminar di Gelanggang Generasi Muda Bandung (GGMB) oleh para pembicara Herry Dim, Putu Wijaya, Bambang Sugiharto, Suyatna Anirun dan Tisna Sanjaya. Peristiwa yang sangat padat muatan jeprut adalah tatkala terjadi penutupan gedung YPK (Yayasan Pusat Kebudayaan) di jalan Naripan. Selama berhari-hari, sekitar puluhan seniman dan partisipan melakukan aksi nge-jeprut di depan gedung dan jalanan sebagai sikap penolakan atas penutupan gedung yang sudah puluhan tahun menjadi sarana berbagai kegiatan dan apresiasi kesenian satu-satunya di kawasan pusat kota.
Blah blah war adalah istilah lain yang muncul di penghujung 1980an, tepatnya di tahun 1989. Blah Blah War adalah sebuah kelompok yang muncul dari area kampus IKIP --tepatnya di depan Gedung Pentagon--, terdiri atas para mahasiswa seni rupa. Penggagasnya adalah Uday. Pada salah satu selebaran aktivitasnya, ia menyatakan konsep tentang blah blah war, bahwa ”Blah blah war adalah keleluasaan ruang dan media dari seni rupa yang berorientasi pada gerak yang mengantisipasi tema dengan karakteristik joke, satire dan memunculkan pengekspresian temporer dalam bentuk apa pun (spontan): gesture, mimik, vokal, angle, media”.
Istilah lain yang juga muncul sejalan dengan tersebut di atas adalah bus bas bos (dipresentasikan oleh Yoyoyogasmana, 1989). Namun istilah-istilah yang lahir dalam berbagai bentuk eksplorasi seni dari kawasan IKIP Bandung ini tidak banyak dikutip dan dicermati oleh publik. Bisa jadi karena IKIP Bandung tidak dianggap ‘populer’ pada saat itu bila dibandingkan dengan ITB yang dianggap memiliki kredibilitas tertentu serta lebih provokatif. Padahal frekwensi kuantitas aktivitas seni dari para mahasiswa IKIP hingga bernama UPI saat ini cukup bergerak dan mengalir.
Bersamaan dengan hal tersebut di atas, masa 1980an ini juga hadir karya-karya happenings macam John Cage dan kawan-kawannya di tahun 1952 di Black Mountain College, Amerika Serikat. Di Bandung muncul karya-karya Harry Roesli yang multimedia eksperimentatif, melalui kelompok DKSB (Depot Kreasi Seni Bandung). Tak hanya musik namun juga menyertakan audiens sebagai ‘korban’ eksperimennya semenjak memasuki pintu masuk ruang pertunjukan. Antara lain dalam pertunjukan “Musik Rumah Sakit” dan sebagainya. Munculnya Teater SAE yang dipimpin oleh Boedi S Otong, juga merupakan salah satu indikasi menuju pendobrakan kaidah teatrikal. Proses pengolahan tubuh sebagai medium ekspresi menjadi titik utama dalam setiap pertunjukan. Permainan gesture yang terjadi oleh Margesti, Zainal Abidin Domba dan aktor lainnya sangatlah mengalir, lebih dari sekedar diaktingkan atau dibuat-buat. Naskah-naskah provokatif milik Afrizal Malna menjadi sumber utama yang menjadi kendaraan terbesar para aktor dan aktrisnya saat mengeluarkan energi eksperimentalnya. Boedi secara militan membiarkan konstruksi teatrikal bergerak dan mengalir menuju bingkai skema cerita yang seringkali membebaskan pemain dan alur cerita itu sendiri.
Istilah ‘performance art’ baru dikenal setelah beberapa artis Indonesia hadir di beberapa acara festival performance art internasional di manca negara sejak tahun 90-an menjelang millenium.
Setelah melewati masa booming pameran dan penjualan karya seni rupa (era 80-an), di awal era 90-an terjadi kritik atas situasi pasar komersial yang telah terjadi. Muncul karya-karya seni instalasi sebagai buah produk dari Dadang Christanto, Heri Dono, EddiE Hara dan FX Harsono yang disertai aksi performance mereka sebagai pernyataan pergerakan idiom seni rupa Indonesia menuju pergerakan seni rupa dunia yang lebih plural.
Wacana performance art hadir di era ‘80an. EddiE Hara memulai aksinya keliling kota Yogyakarta selama 24 jam dengan menggelar karyanya. Bersama seorang mahasiswi ISI dari manca negara, borgol membelenggu tangan mereka berdua dan kunci disimpan oleh seorang dosen. Selama beberapa hari dalam terborgol bersama, kedua seniman tersebut harus melewati segala aktivitas masing-masing bersama, baik berjalan, buang air, tidur, makan, naik bus, ganti baju dan sebagainya. Aksi ini adalah hasil inspirasi karya Hsieh Teching dan Linda Montano yang memborgol tangannya selama setahun berjudul “Hardship”.
Di tahun 1990an, ‘manusia lumpur’ Dadang Christanto melakukan performance saat di Jepang. Ia berjalan dengan celana dalam putih dan sekujur tubuh dari kepala hingga mata kaki berbalur bedak pupur putih dan menyusuri daerah pertokoan di Jepang. Tahun 1994, di Solo (Surakarta) hadir Tang Da Wu dengan karyanya berjudul “Black Monsoon” di arena Taman Budaya Surakarta (TBS) dalam rangkaian acara Festival Nur Gora Rupa. Performance Dadang Christanto lainnya tercatat ditampilkan di tahun 1997 (Feriawan, 2006:55). “Manusia Tanah” dan For Those Who had been killed adalah performance yang produk akhirnya menjadi instalasi.
FX Harsono membakar dan menggergaji beberapa kursi kayu dalam karyanya berjudul “Korban I/ Yang Mati Terbakar”. Ia kemudian meninggalkan artefak performancenya yang menjadi instalasi di ruang pamer Cemeti Art House, Yogyakarta. Karya Harsono merupakan representasi atas tragedi 13-15 Mei 1998 di Jakarta yang banyak menyertakan korban ribuan jiwa yang terbakar dalam aksi massal pembakaran atas bangunan yang dihuni etnis Cina (Tiong Hwa).

Menjelang tahun 2000, beberapa artis Indonesia makin dikenal di arena internasional secara lebih meluas. Mereka yang dikenal sebagai performer manca negara selain selaku perupa adalah Teguh Ostenrik, EddiE Hara, Made Wianta, Nyoman Erawan, Krisnamurti dan lain-lain.
Arahmaiani* adalah pencetus publikasi istilah ‘performance art’ untuk pertama kalinya bagi publik Indonesia melalui acara festival performance art di Jakarta (JIPAF 2000). Acara ini dimuat oleh berbagai media massa ibu kota yang memiliki oplah dan segmen pembaca terbesar di Indonesia (baca: KOMPAS).
*)Hingga saat ini Arahmaiani adalah artis satu-satunya yang secara konsisten getol di bidang performance art dan asyik mengutak-atik aneka bentuk rupa seni, sejalan dengan hobbynya merambah dan nongkrong beberapa lama di berbagai negeri orang dengan berbagai projek seninya.

Di tahun 2000, acara JIPAF (Jakarta International Performance Art Festival) 2000 hadir di Teater Utan Kayu (TUK), Jakarta. Koordinasi penyelenggaraannya oleh Arahmaiani bersama Komunitas Utan Kayu. Sejak itu, performance art mulai marak diperbincangkan dan diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia, terlepas dari isyu pro dan kontra, baik melalui media massa. Beberapa artis pun makin merambah dan eksis di luar, beberapa bahkan jauh dari istilah ‘jago kandang’, dalam arti ‘tak tersentuh’ oleh media massa. Nama-nama antara lain Tisna Sanjaya, Diyanto, Isa Perkasa, Yoyoyogasmana, W. Christiawan, Mimi Fadmi, Iwan Wijono, Reza Afisina dan lain-lain seringkali hadir di berbagai forum internasional. Hadir juga nama Tiarma Sirait, performer yang sangat khas dengan eksplorasi keperupaannya di jalur fashion.
Di Bandung muncul komunitas-komunitas yang melahirkan event antara lain: BaPAF (Bandung Performance Art Festival) yang digagas dan penyelenggaraan awalnya oleh Arief Yudi di tahun 2000 di Galeri Barak. Nama-nama yang hadir selain performer senior saat itu antara lain: Deden Sambas, Hendra Prawira, Panji Sis, Nandang Gawe, Tiarma D Sirait, Daan, Adde, Aket, Heru Hikayat, Riyanto dan Anggiat Tornado. BAE (Bandung Art Event) 2001, Indonesia-Japan Exchange Performance Art & Workshop adalah beberapa event yang sempat dilakukan di kota Parijs van Java ini. Yoyoyogasmana memelopori pembentukan B+PAC (Bandung Performance Art Community) di tahun 2003 dan menjadi penerus penyelenggaraan BaPAF#1 dan #2 sekaligus head office IAPAO (International Association for Performance Art Organisers) untuk Asia yang berpusat di Helsinky, Finlandia. The 2nd IAPAO Meeting + International Performance Art Festival dilaksanakan di Bandung tahun 2004.
Bandung memang tergolong sangat ‘ramai’ dalam ‘dunia persilatan’ performance art. Hadirnya para pegiat yang tak hanya performer berkaliber internasional, namun juga para pengamat, penyelenggara dan penggulir sekaligus pelaku terjadinya diskursus dan penggagas serta motivator kearah wacana di kota sejuk ini sungguh sangat menyemangati dan menyirami tumbuh kembangnya kehidupan seni. Selain melakukan penampilan perorangan dan kelompok yang diorganisasi di galeri-galeri dan ruang-ruang publik seperti mal dan jalan raya, mereka juga membentuk komunitas yang segera mandiri menyelenggarakan kegiatan berkala yang bertujuan menjembatani paresiasi publik terhadap karya-karya mereka (Hujatnikajennong, Agung: 2004). Para pemerhati di bidang ini beberapa di antaranya bergerak maju melakukan riset sebagai disertasi, tesis atau pun skripsi. Acara penggodogan wacana ini hadir dalam ruang-ruang diskusi yang seringkali diselenggarakan di Rumah Nusantara, Galeri Barak, Galeri Kita, CommonRoom, Taman Budaya Dago Jawa Barat, LinkArt, Selasar Sunaryo, CCF, Galeri Soemardja di ITB serta beberapa universitas dan sebagainya. Sementara para performernya yang tergolong ‘setia’ berkubang di dalamnya antara lain: Aminuddin Th Siregar, Frino Bariarcianur Barus, Herra Pahlasari, Uga Stigma, Prilla Tania, Angga Wedhaswhara, Ferial Affif, Roni Brons, Godi Suwarna, Mukmin (Soge) Ahmad, dll. Kelompok-kelompok yang juga turut marak meramaikan dunia performance art di kota wisata outlet ini antara lain adalah: Ganiati (Garing Mania sampai Mati), SBD (Serangga Berbulu Domba), DBB (Demam Berdarah yang Berdoa), Tai Kotok dan lain lain.
September 2006, B+PAC sempat menjalankan program BaPAF#3 Goes to Public, Tour de Java untuk menjalin networking sekaligus sharing forum bagi wacana performance art di berbagai institusi seni di Jawa Barat, Jawa Tengah (Yogyakarta, Solo) dan Jawa Timur (Surabaya, Malang). Penggagas acara sekaligus pelaksana acara ini adalah Mukmin ‘Soge’ Ahmad dibarengi oleh Ronald Q-Think Sibarani dan Rangga. Berbekal beberapa artikel (karya Heru Hikayat dan S S Listyowati) serta ‘majalah’ laporan penyelenggaraan BaPAF#3 Goes to Campus di bulan April 2006, para performer ini menyebarluaskan informasi dasar tentang performance art dalam setiap kesempatan sharing forum.
Masih di bulan yang sama, Pasar Seni ITB meramaikan acaranya dengan memasukkan seni performa sebagai salah satu agendanya dalam pembagian area seni (tradisi, kontemporer), antara lain dalam zona Corrugated Temple dan Kubah Putih.
Di kawasan Yogyakarta nama Venzha Christiawan –yang tekun bereksperimen mengeksplorasi teknologi elektronik digital dan video--, mengulang ide Atsuko Tanaka dari kelompok Gutai di tahun 1950an dengan baju elektriknya. Disadari atau tidak pada awalnya, perkembangan eksperimen seperti yang dilakukan Venzha adalah keindahan tersendiri bagi dunia performance art di Indonesia serta multi media lainnya dalam seni. Selain itu nama-nama seperti Ira, Ronald Apriyan, Yustoni Volunteero, Lashita, Yayan Hariansyah, Cutter Sindhu, Wendy Shan Wong, Sadat Laope, Orsay Eugene, P-Trus, Naras, Tere, Semoga Lekas Sembuh, Buyung Mentari, Coklat (Cowok Klaten) dan sebagainya adalah gambaran perkembangan yang stimulan. Tercatat penyelenggaraan acara khusus performance art antara lain Perfurbance (2005) dan Perfurbance#2 (2006) oleh kelompok PerformanceKlub serta beberapa sessi dalam Biennale Jogja (2005) oleh komunitas seni Cemeti yang juga rajin melakukan riset, selain hadir dalam beberapa forum lainnya antara lain di Kedai Kebun, Bentara Budaya Jogjakarta dll. Tahun ini, Perfurbance#2 digelar dengan mengundang beberapa performance artist luar negeri untuk memberikan workshop dan artist talk, macam Seiji Shimoda (Jepang) dan lain-lain.
Di Jawa Tengah selain Yogya, kesukaan berperformance juga merambah kawasan Solo, Muntilan, Magelang, Jepara, Semarang dan sebagainya. Di Semarang, bulan September ini hadir di Rumah Seni Yaitu para peseni performa dari PerformanceKlub, antara lain Iwan ‘Tipu’ Wijono (direktur), bersama Ronald Apriyan yang baru saja dari Jepang mengikuti acara NIPAF#13. Mereka membicarakan seputar wacana dasar performance art dan perkembangannya kini.
Kehadiran GeberModusOperandi adalah salah satu pembawa wacana. Lebih dari sekedar Teater SAE, dalam setiap penampilannya kelompok ini sangat tidak mempedulikan konsep ‘akting’. Dengan mengindahkan nilai konvensional dalam sebuah peranan, setiap pemain bergerak ‘secara liar’ dan menimbulkan kondisi ekperimentatif pada diri masing-masing. Para pemain dibebaskan dalam patron yang telah ditetapkan. Mirip Teater SAE atau Teater Forum pimpinan Sigit Haryoto-Bodong Adam hampir 2 dekade lalu. Namun penampilan GeberModusOperandi dalam judul yang sama di setiap panggung tak pernah sama. Selalu memiliki unsur eksperimen saat berlangsungnya pementasan itu sendiri, bergantung pada tempat berlangsungnya dan respon audiens. Penonton akhirnya menjadi lebur di dalamnya. Sehingga oleh beberapa pengamat apa yang dilakukan oleh GeberModusOperandi adalah sesuatu dalam bingkai performance art. Orang-orang yang bergerak di belakang ide ini antara lain adalah Amrizal Sulaeman dan Pius Sigit. Semangat dan eksplorasi ‘media tubuh’ sedemikian maksimal yang digunakan dalam repertoar pertunjukan teater juga dilakukan oleh Teater Garasi. Sang asisten sutradara, Gunawan Maryanto, seringkali menggunakan istilah ‘performer’ dan performance, bukan ‘pemeran’ atau ‘aktor’ dan ‘pertunjukan’ saat dalam diskusi bersama audiens (Widjono, Iwan: 2001).
Di Surabaya, Malang dan sekitar Jawa Timur meski belum marak diselenggarakan dalam forum-forum khusus, namun beberapa senimannya antara lain tercatat nama Nanang Zul, Agus Koechink, Ilham J. Baday, Herry Lentho, Slamet Gaprak dan sebagainya. Ilham J. Baday adalah performer yang tengah produktif di tahun ini. September ini ia melakukan aksi seni performanya di kota ikan sura dan buaya ini.
Makassar yang tampak marak dengan berbagai acara keseniannya hingga ke dunia internasional setengah dekade ini, telah muncul beberapa kelompok dan individu di dalamnya selaku performer. Street theater (street performance) yang acapkali mereka lakukan di jalanan dan berbagai lokasi sebagai benang merah dan inti permasalahan sosial yang ingin mereka katakan menjadi catatan tersendiri dalam dunia seni di Indonesia. Secara tradisi mereka telah memiliki kebiasaan ritual dalam menyampaikan harapan-harapan ke dalam bentuk seni yang langsung dan spontan dihadirkan ke depan publik. Kesukaan melakukan performance ini melahirkan beberapa performer yang dapat dikategorikan ke dalam bingkai performance art. Beberapa di antaranya mulai melepaskan kaidah-kaidah teatrikal serta unsur-unsur performing art, meski belum berjalan secara konsisten. Para performer ini tak selalu beraksi di sebuah tempat atau jalanan, kadang mereka beratraksi di atas bus antar kota. Firman Djamil seringkali melakukan aksinya secara kolosal bersama rekan-rekan seniman dan melibatkan sebagian warga kota, para tukang beca dan sebagainya menuju gedung Walikota dan bertemu dengan sang Walikota. Ahmad Anzul muncul dengan performancenya di antara kubangan dan timbunan sampah. Simon Irwin dengan menjinjing perangkat radio tapenya yang selalu dihidupkan sambil terus berjalan kaki, mematung diri di tengah jalan dan perempatan kota, memasuki kendaraan umum angkutan publik dan menuju rumah tempat tinggalnya. Kelompok teater Merah Putih pimpinan Shinta dan Armand sempat berkolaborasi bersama para seniman setempat lainnya melakukan performance spontan hingga lebih dari 24 jam sampai keesokan harinya.
Di Bali, institusi yang beberapa kali menyelenggarakan festival bertajuk performance art ini adalah komunitas seni di lingkungan Universitas Udayana. Beberapa performer juga hadir dari kawasan Singaraja. Klinik Taksu di Denpasar adalah komunitas yang sangat kental bereksplorasi dalam ruang performance art, selain terkenal dengan lukisan mural dan graffiti.
Belum semua data berhasil masuk, karena para performer yang melakukan kegiatan performance art tersebar di berbagai daerah sangatlah sporadis. Seperti misalnya Jambi serta Riau, atau pun Padang, Medan, Palangkaraya, Banjarmasin dan Balikpapan serta beberapa kota kecil lainnya, menurut sinyalemen terdapat pula para pelaku dan peristiwanya.
Sementara di Jakarta sendiri, meski seringkali diselenggarakan, namun belum bisa dihitung dengan jari sebelah tangan untuk acara khusus performance art. Selain JIPAF oleh Komunitas Utan Kayu di tahun 2000, Galeri Nasional pernah pula menyelenggarakan di tahun 2005, demikian pula komunitas seni di UNJ (Universitas Negeri Jakarta) serta para mahasiswa IKJ (Institut Kesenian Jakarta) di kawasan TIM (Taman Ismail Marzuki). Sangat sporadis. Beberapa mahasiswa IKJ menampilkan karya mereka pada berbagai kesempatan. Rewind Art adalah sebuah komunitas performance art di lingkungan UNJ (Jemaat dan kawan-kawan) yang cukup setia dan produktif. Kelompok ini melakukan performance art selaku hobby, sehingga seringkali terjadi peristiwa performance art di dini hari, yakni saat mereka usai bangun tidur di ruang studio kreatif mereka di kampus. Meski tampak main-main, namun acara ini acapkali menggunakan publikasi terlebih dahulu, antara lain dengan penyebaran leaflet dan poster sebagaimana acara resmi laiknya.
Selebihnya, seni performa lebih banyak diselenggarakan secara individual untuk melengkapi acara-acara pembukaan seni rupa di berbagai galeri dan pameran lainnya. Tak hanya di Jakarta namun juga berlaku di beberapa kota dan daerah lainnya seperti Bandung, Jakarta, Yogya, Surabaya dan Bali.
Beberapa artis yang telah melesat jauh hinggap di atap negeri-negeri seberang, sehingga di kandang sendiri pun tak terdengar dan sampai kini masih berdomisili di kawasan Eropa serta tetap terus bergerak eksis di bidang ini. Mereka antara lain adalah Melati Suryodarmo (dari Solo/ Surakarta) kini bermukim di Jerman dan Boedi S. Otong (dari Jakarta) yang kini di Swiss, selain EddiE Hara (dari Yogya) di Basel. Karya-karya performance art Melati banyak dibicarakan karena kekuatan konsepnya. Atraksinya yang terkenal adalah menari di atas mentega dengan sepatu wanita bertumit tinggi di periode 1998. Performance berjudul “Exergy Set” ini dihadirkan lagi di Goethe Institut, Maret lalu. Dalam salah satu karyanya yang lain (setelah tahun 2000), ia menyanyikan lagu Indonesia Raya di sebuah taman kota area wisata di Jerman dalam gaun panjang nan anggun lengkap dengan sepatu hak tingginya setelah terlebih dahulu ia ditarik di atas tanah mengelilingi kawasan taman oleh sebuah kereta kuda kuno nan indah lengkap dengan para kusir dan penumpang ‘bulé’ berkostum bangsawan Eropa di masa lalu. Sementara Boedi lebih banyak menggunakan tehnik ‘minimalis’. Tak pernah menggunakan perangkat benda yang sengaja ia hadirkan sebagai media atau alat bantu setiap atraksinya. Karyanya antara lain berdiam diri berjam-jam mematung di sebuah perempatan jalan di ujung sebuah zebra cross di sebuah kota di Eropa atau berendam di dalam air laut di sebuah pantai di beberapa negara. Di saat lain Boedi hanya bergumam dalam bahasa ‘aneh’ dengan gerak tubuh bagai orang tengah bercakap di tengah sebuah forum diskusi di Semarang. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa dialog tidak harus menggunakan bahasa yang sama dan dimengerti.
Penyelenggaraan performance art di Indonesia lebih sering dilakukan untuk kepentingan merespons berbagai masalah sosial, politik, ekonomi dan sebagainya yang tengah terjadi aktual. Seringkali kita dapati para performer melakukan kegiatannya saat terjadi kenaikan harga, para petani kehilangan lahan, ketiadaan pangan layak di suatu daerah, persoalan illegal logging, upah buruh rendah, PHK, BBM, pornografi, pornoaksi, protes terhadap berbagai RUU, penyadaran ekosistem hingga problem kematian Munir yang masih tanda tanya. Santo Klingon adalah contoh salah satu performer yang sangat rajin menyuarakan kondisi aktual ini dalam performancenya di lokasi-lokasi terjadinya kondisi. Berbagai reaksi dalam bentuk aksi dan atraksi ini hadir tak hanya dalam ruang-ruang berdinding, namun acapkali melebar hingga ke jalan-jalan raya, halaman gedung pengadilan, sungai-sungai dalam kota, sentra penimbunan sampah dan sebagainya.
Institusi-institusi kebudayaan asing berperanserta dalam pengembangan wacana performance art baik dalam acara-acara diskusi dan ‘live show’nya. Antara lain adalah The Japan Foundation, Goethe Haus, Erasmus Huis dan pusat kebudayaan Perancis yang tersebar di beberapa kota di Indonesia, antara lain CCF (Centre Culturel Français) di Jakarta dan Bandung, LIP (Lembaga Indonesia Perancis) di Yogya serta CCCL (Centre Culturel et Cooperation de Language) di Surabaya.
Terdapat koridor yang berbeda meski dalam ruang yang sama. Nama-nama beberapa performer yang sangat tekun dalam koridor performance yang (menurut penulis) bukan seni performa seperti: Suprapto Suryodarmo, Wawan Husin, Agoes Jolly dan lainnya tidak penulis masukkan dalam kategori ‘performance art’ dalam tulisan ini. Meski pun beberapa di antaranya acapkali hadir dalam berbagai event yang disebut performance art, namun penulis tetap melihat ‘perbedaan’ koridor yang digunakan. Para performer ini memiliki ritual spesifik dengan mengandalkan rithme gerak tubuh dan beberapa kaidah performing art sehingga membuat setiap performance mereka ‘terasa lain’ ketimbang ‘performance’ macam Joseph Beuys atau pun Yves Klein, bahkan John Cage mau pun Allan Kaprow hingga Laurie Anderson.
Komponis Slamet Abdul Sjukur terkadang menggunakan pakem eksperimentalnya ke dalam musik minimalisnya yang eksploratif. Menurut penulis, ini adalah sebuah karya performance art. Dalam salah satu repertoarnya ia menggunakan sepatu yang diisi air untuk mendapatkan ‘keindahan’ suara, bermain dengan suara air dalam mulut, atau menampari pipinya yang dikembungkan sedemikian rupa sehingga tercipta bunyi yang indah melalui soundsystem. Pernah pula ia mengajak masyarakat sebuah desa di Jawa Timur mengumpulkan pita-pita kaset yang kemudian dibentuk sedemikian rupa menjadi musik instrumental baru saat tertiup angin. Setiap repertoarnya memiliki penjelasan filosofi yang panjang lebar dan lebih menarik kesadaran publik atas hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitarnya (environment).
Pada dasarnya performance art adalah sebuah performa atau penampilan yang provokatif. Meski performance art memiliki kecenderungan dalam pesan ‘penyadaran’ dan kepedulian, konsep moral yang mendasarinya tetaplah terbungkus dalam bentuk-bentuk yang ekstrim dan radikal. Ekstrim dan radikal di sini tak hanya seperti yang dilakukan Marina Abramovich saat menyilet permukaan perutnya sendiri yang mulus dan cantik, atau Nam Jun Paik yang mengampak dan memecah belah perangkat TV bersama Wolf Vostel. Ekstrim dan radikal bisa juga berbentuk seperti yang dilakukan Tisna A Sanjaya dengan mengajak masyarakat sekampung untuk bermain bola bersama, atau juga Hendrawan Riyanto dengan ‘keluarga pisang’nya. Karya kedua performer Indonesia ini sangat provokatif. Mereka membuka ‘kesadaran’ publik atas komposisi interaktif manusia dengan cara yang cukup frontal. Tampak ‘biasa-biasa’ saja, namun kemudian cukup mencengangkan saat memahaminya. Para audiens terprovokasi pada akhirnya.
Pelaku performance art tak hanya hadir dan berasal dari ruang seni rupa, meski pun juga tak jauh dari bidang seni. Beberapa artis berasal dari aneka akademika, baik di bidang hukum, arsitektur, teknologi dan lainnya. Iswanto G Hartono, dosen arsitektur di UNTAR (Universitas Tarumanagara, Jakarta) yang juga perupa, menurut penulis adalah seorang performer. Video art yang dibuatnya menunjukkan kecenderungannya berada dalam ruang performance art. Dalam acara pameran senirupanya di New Zealand, tahun 2005 lalu hasil kuratorial Rifky Effendy, menurut penulis juga sebagai bentuk sebuah performance art. Judul karyanya adalah “Border”. Ia membagikan formulir imigrasi kepada setiap pengunjung untuk diisi. Formulir-formulir ini ia display (ditempel) pada sebuah permukaan dinding galeri sebagai karya rupa (visual art). Iswanto ingin menceritakan betapa susahnya saat memasuki negeri Paman Sam akibat peristiwa 11 September dan bom Bali –dalam rangka program residensi di Vermont Studio of Visual Art, Amerika Serikat. Ia harus mengalami masa tunggu berjam-jam di bandara dan mendapati berbagai tas dan bagasinya diobrak-abrik petugas bea cukai, sementara penumpang non-Indonesia tidak diperlakukan demikian.

Catatan :
Fakultas Arsitektur UNTAR adalah model akademika yang cukup progresif dengan kesadarannya atas pengembangan pengetahuan bagi para calon arsitekturnya, antara lain secara reguler per bulan menggelar acara talk dan diskusi Tea Space di ruang Bengkel yang membahas berbagai kajian seni dan budaya serta membangun Galeri Lawang sebagai salah satu pendukung materi pendidikannya.

Meski begitu pesatnya performance artists kita di belahan dunia luar, di Indonesia sendiri masih belum juga menjadi sebuah kesatuan persepsi. Beberapa di antaranya masih mengkategorikannya dalam performing art, yakni seni pertunjukan, yang berujud tari atau teater dan musik. Istilah yang kemudian muncul, yakni ‘seni rupa pertunjukan’. Publik seni lainnya juga masih bingung atas perbedaannya dengan ‘happening art’ dan atraksi nge’jeprut’ lainnya. Ada seorang pengamat seni yang menyebutkannya sebagai ‘seni rupa langsung’, dan pengamat lainnya menyebutnya sebagai ‘seni rupa gerak’ (Dewanto, Nirwan: 2002) serta menyebutkan “Tujuh Paradoks Performance Art” yang cukup membingungkan dan kontradiktif dengan deskripsi sebelumnya (dalam tulisan yang sama). Penulis melihatnya sebagai kesimpulan yang tergesa-gesa apabila hanya mengacu pada peristiwa JIPAF 2000 dan cuplikan kepingan-kepingan referensi. Sejarah seni performa meliputi banyak pelaku yang terbagi dan tersebar secara geografis dalam lapisan kronik waktu. Begitu pula dengan para pemerhati dan penulis serta peneliti dalam genre ini. Setiap kehadiran seni performa di satu tempat merupakan hasil telaah dan mata rantai kausalitas dari peristiwa sebelumnya serta bersifat situasional yang perlu dicermati dengan hati-hati. Bila tidak, maka pendapat yang disampaikan terlihat belum menggenggam bobot dasar referensi. Hal ini akan semakin mengoyak wacana publik ke arah persepsi nan chaos. Demikianlah, media massa pun tak lepas dari ‘kesalahpahaman’ dan ‘ketidaksepakatan’ ini.
Pembinaan wacana melalui media massa (baca: suratkabar/ harian/ koran) di Indonesia, menurut penulis, belumlah serempak. Ini bila dibandingkan secara kwantitas menurut frekwensi peristiwa dan komunitasnya. Sudah selaiknya bila pers melakukan seleksi pemuatan tulisan yang telah melalui proses riset atau oleh penulis yang kompeten di bidangnya. Deskripsi dan argumen atau pendapat yang dilontarkan tanpa disertai ‘bacaan’ akan lebih sesuai bila ditampilkan dalam kolom surat pembaca saja.
Di antara kekurangan tersebut, penulis mendapati beberapa tulisan yang tampak cukup deskriptif dan memberikan pemahaman dasar. Misalnya tentang tubuh dalam seni performa, dikatakan bahwa “…performance art lebih memberi kesempatan kepada tubuh untuk memainkan peranan yang maksimal di dalam relasi seni dan penikmat. Di situ kesenian berupaya memecahkan jarak yang terlanjur terbentuk ketika material memberi campur tangan yang besar terhadap interprestasi makna.” (Arcana, Putu Fajar: 2004). Sebelumnya sang penulis artikel tersebut menyatakan bahwa seni performa adalah ‘seni yang hidup di kepala masing-masing’ dan “,,. Biasanya berupa fragmen-fragmen yang dicuplik dari deretan peristiwa, tetapi kemudian diberi bingkai baru sehingga menjadi pintu bagi sebuah wacana besar yang ada di belakangnya. ... Ia menjadi lebih dekat dengan amatan-amatan terhadap realitas sosial, tetapi kemudian mengkritiknya secara ekstrem.”
Lebih jauh lagi, sebelumnya sebuah tulisan memberikan ulasan berdasarkan sejarah seni performa bahwa “… telah terjadi penolakan terhadap estetika lama yang selalu dalam frame yang kaku pada perkembangan teater dan seni rupa sejak ‘60an. Frame itu terjebak dalam keindahan yang sudah membosankan dan tidak membawa semangat baru tentang penerobosan batas-batas media, karya-karya seni yang hidup, nyata, yang berhubungan langsung dengan masyarakat mau pun kehidupan senimannya itu sendiri. … Panggung bisa melebar ke bus kota, toilet umum, kantor pemerintah, pusat kota dan dimana saja, karena konsep panggung itu sudah tidak ada. Dalam kerja-kerja living theatre performance art juga sering terjadi komunikasi interaktif antara seniman dan penonton, jarak antara penonton dan yang ditonton sudah dilebur, semuanya bisa masuk dan mengalami karya itu. Pelaku tidak lagi memerankan siapa-siapa, tetapi memerankan diri sendiri untuk melakukan aksi dari ide-ide karya itu. … Di dalam aksi sang seniman atau pelaku bisa saja terbakar, patah tulang, ditangkap polisi, dan lain sebagainya.” (Widjono, Iwan: 2001).
Tulisan lain berupa konklusi faktual –menurut penulis--, menyebutkan bahwa “Performance art bukanlah seni “konvensional”, jelas wataknya bertolak belakang, … (atau melawan modernisme). Paling kurang, performance art dipandang dari jurusan seni rupa, teater, musik, tari adalah seni yang berusaha mendobrak kekhususan mediumnya sendiri, ia menjadi multimedia; karena hakikat medium (kemurnian medium) tak lebih adalah cerminan subyek yang utuh-stabil (yang dipercayai modernisme), sedangkan multimedia adalah eklektisme, cerminan subyek yang terpecah (yang dirindukan postmodernisme). Performance art (mencoba) meleburkan diri ke dunia, ke kehidupan, sebab seni yang “konvensional” lekas mengalami komodifikasi dalam arus kapitalisme (…). Ia juga menolak hirarki yang tinggi dan yang rendah (sebagaimana tercermin dalam pembedaan seni tinggi dan budaya massa), jadi (berupaya) melakukan demokratisasi.” (Dewanto, Nirwan: 2002).

Di Singapura
Tang Da Wu adalah nama seniman Singapura yang pertama kali menggunakan istilah performance art (melalui publikasi) untuk karyanya yang ditampilkan di National Museum Art Gallery di tahun 1982. Karya berjudul Five Performances ini dianggap mengawali keabsahan keberadaan performance art di negara makmur se-Asia Tenggara ini. Meski sebelumnya, sejarawan TK Sabapathy menyebut bahwa di tahun 1979 seorang perupa Tan Teng Kee membuat aksi menjual karya-karya patung dan lukisannya secara outdoor picnic. Sabapathy menyebut aksi Tan sebagai ‘three-dimensional constructions’ (Langenbach, Ray: 2003, 8).
Awal mula Da Wu memiliki perhatian terhadap performance art adalah saat ia bertemu dengan seniman performa David Medalla asal Filipina di Inggris, awal tahun 1980an. Seniman Filipino yang tumbuh dengan karya instalasi kinetik dan ‘machine-event’nya di tahun 1960an ini memiliki link dengan kelompok Fluxus dan Informel. Medalla cukup berpengaruh bagi para seniman lainnya, termasuk Tang Da Wu yang terinspirasi olehnya.
Keberadaan seni performa di Singapura tak lepas dari keberadaan kelompok para seniman yang membuka payung bernama The Artists Village [TAV]. Tang Da Wu turut mendirikan kelompok ini di studio kampungnya di Ulu Sembawang pada tahun 1988 dan kemudian di tahun 1992 terdaftar sebagai lembaga non-profit. Tahun 1994, Da Wu sempat tampil di Indonesia dalam acara Nur Gora Rupa di Solo (Surakarta). Performancenya berjudul “Black Monsoon” saat itu sangat memukau penonton dan mengundang applaus di antara keheranan dan kebingungan atas bentuk seni yang ditampilkan. “Seni pertunjukan, seni tari atau seni rupa?” (Ostenrik, Teguh: 1994). Yang pasti, harapannya untuk menyampaikan dan mengundang keprihatinan atas peristiwa Chernobyl dan eksesnya bertahun-tahun kemudian serta kemungkinannya di puluhan tahun di masa depan bagi kehidupan manusia telah tertangkap oleh audiens.
Vincent Leow adalah praktisi seni performa berikutnya di Singapura setelah Tang Da Wu. Di tahun 1988, ia memulai aksinya setelah juga terinspirasi oleh seniman performa asal Filipina, Alwin Reamillo di tahun 1985. Vincent juga dikenal di Indonesia. Ia acapkali melakukan artist recidency dan berkolaborasi dengan para artis setempat (Yogyakarta dan sekitarnya).
Di akhir 1980an dan 1990an berbagai event, forum dan aksi performance art dengan berbagai kategorinya ditampilkan, antara lain : Turn To The Kampung {Tang Da Wu, Vincent Leow dan the Artists' Village}, Turn To Tradition: Asian Values discourse oleh Trimurti (Goh Ee Choo dan Chandrasekaran), Performing Curatorship dalam 5th Passage dan Artists' Village (generasi ke-2), Turn to the May Fourth Movement (Cheo Chai Hiang dan Koh Nguang How), Dialogical or Engaged Practice (Jay Koh, Chu Chu Yuan, Amanda Heng, Lee Wen), Hybrid forms of dance/music/installation ("Not performance art") oleh Zai Kuning, Performative architectonics (Lim Tzay Chuen), Kinetics as Proxy Performance (Suzann Victor dan Matthew Ngui), The Writing/Lecture Machine (Susie Lingham, Ray Langenbach, Lee Weng Choy), Virtual and Internet Performance: Tsunamii.net (Tien Woon, Charles Lim, Tay Hak Peng), Melvin Phua, Tan Kok Yam), Other species (Lucy Davis).
Joseph Ng Sing Chor, adalah tokoh paling populer bagi publik luas di Singapura. Meski kini aktivitasnya tak pernah terdengar lagi, karya performance artnya tidak akan pernah terlupakan karena karya yang ditampilkan sangat menyengat masyarakat Singapura. Alasan dasarnya saat itu --berdasarkan surat pembaca di media massa--, adalah karena masyarakat setempat masih memegang adat istiadat dan agama mereka sebagai panutan norma dalam kehidupan sehari-hari.
Joseph Ng terkenal dengan karyanya di tahun 1994 dalam rangka acara 5th Passage Contemporary Art Space. Suatu pagi di tanggal 1 Januari, bersama Shannon Tam, Ng menampilkan karyanya di depan sekitar 30-40 orang yang terdiri dari beberapa fotografer dan peliput dari pers tabloid setempat.
Joseph Ng membelakangi penonton dan tubuhnya yang hanya tertutup celana dalam menunjukkan gerak Ng tengah menggunting ‘pubic hair’nya.
Kabar tentang aksi ini tersebar luas saat dua hari kemudian foto performance art karya Ng muncul di halaman muka tabloid. Iris Tan, pimpinan produksi acara 5th Passage bersama Ng terpaksa harus melalui proses interogasi polisi. Pemerintah kemudian menyatakan bahwa karya Ng dan acara 5th Passage merupakan bentuk agitasi terhadap publik dan subversi terhadap pemerintah. Acara the 5th Passage produksi Artist's General Assembly (AGA) untuk New Year’s 1993-1994 pun ditutup.
Pengadilan Tinggi setempat menjadi ramai dikunjungi para seniman dari sekolah-sekolah seni, galeri dan teater bagai sebuah pertunjukan dengan ‘drama-hitam’, atau ‘film-noir script’ demikian tutur Ray Langenbach dalam tesis doktoralnya tentang performance di Singapura 1988-1995. Istilah ‘performance art’ kemudian membawa aura sebagai sebuah sajian kriminal dan ideologi terlarang (Ray, 2003:01).
Pemerintah Singapura menyatakan deklarasinya melalui Singapore Press Holdings, sebagai berikut:
[...] concerned that new art forms, such as "performance art" and "forum theatre" which have no script and encourage spontaneous audience participation pose dangers to public order, security and decency, and much greater difficulty to the licensing authority. The performances may be exploited to agitate the audience on volatile social issues, or to propagate the beliefs and messages of deviant social or religious groups, or as a means of subversion [The Straits Times (Staff) 21 January, 1994 (22 Jan.)].
Keputusan pemerintah ini membuat keberlangsungan ‘performance art’ di Singapura menjadi mandeg seketika. Penggunaan istilahnya dihapuskan. Para seniman serta merta mengganti istilah ‘performance art’ dalam daftar curriculum vitae atau resume dan grant application mereka dengan istilah ‘dance’, ‘theatre’, ‘movement’ atau ‘action’. Demikian pula pengajaran materi ‘performance art’ yang diberikan di beberapa sekolah seni dan universitas tidak dilanjutkan. Para seniman, pengajar, budayawan dan cendekiawan serta institusi yang memegang bendera AGA, dijauhi. Bahkan sekelompok mahasiswa menyerang sang dosen saat mengajarkan materi pengetahuan mengenai ‘performance art’ kepada mereka.
Jurang pro dan kontra di antara para akademisi dan seniman terjadi semakin lebar. Perang pendapat terjadi melalui kolom ‘letters-to-the-editors’. Beberapa menyatakan bahwa para praktisi ‘performance art’ menggunakan prinsip kebebasan atas segala hal. Para cendekiawan setempat malah menuding pemerintah mengabaikan wacana (discourse) pihak akademisi.
Beberapa tulisan dalam isyu ‘Commentary’ di sebuah jurnal budaya untuk umum dan diterbitkan oleh National University of Singapore Society yang bersifat kritik teori dan mengembangkan wacana tentang ‘performance art’ dan kasus yang terjadi, disensor oleh the Society's own Management Committee. Para redaktur jurnal tersebut (salah satunya adalah Sharaad Kuttan, pemegang paspor Malaysia yang tengah studi di Singapura untuk jangka waktu 14 tahun, mendapati ijin studinya serta merta dicabut), pun segera mengundurkan diri dan menerbitkan tulisan-tulisan yang disensor tersebut ke dalam sebuah buku di tahun 1996.
Untuk beberapa lama, hampir setengah dekade seni performa di Singapura dalam kondisi vakum. Meski begitu, perkembangan wacana secara laten makin berkembang. Masing-masing seniman memperkaya diri dengan perolehan grant dan studi ke luar negeri. Diskusi mengenai performance art masih terus dilangsungkan meski secara ‘gerilya’.
Tahun 2000, performance art bergerak lagi di Singapura. Sebuah acara bertajuk Artist Investigative Monument (AIM) Festival diselenggarakan di negara kota ini. Kumpulan para seniman di bawah bendera The Artist’s Village (TAV) mengorganisasikan program ini. Acara ini berskala internasional dengan mengundang beberapa peserta dari luar antara lain dari Amerika Serikat, Inggris, Australia, Jepang, Kazakhstan dan Indonesia. Pemerintah memberikan persetujuan atas keberadaan acara ini. Panitia pun memberikan formulir dari jawatan imigrasi Singapura yang harus diisi oleh para peserta demi keamanan dan ketertiban. kAI Lam (Lam Hoi Lit) selaku ketua pelaksana acara sangatlah rajin memberikan informasi ini kepada setiap peserta. Peserta dari Indonesia saat itu adalah: S S Listyowati (penulis), Agoes Jollie, Fahmi Alatas dan Iwan Widjono. Di festival itu pula penulis baru menyadari kesalahan persepsi atas term ‘performance art’. Keterkejutan bahwa bentuk performance yang penulis ajukan dan hadirkan pada saat itu bukanlah sebagaimana yang panitia maksud, membuat penulis segera mulai belajar memahami pada saat itu juga dengan segala keterbatasan pengetahuan sejarah seni yang ada. Hasil pembelajaran ‘instan’ ini berupa improvisasi kolaboratif pada karya Agoes Jolly baik di The Substation mau pun di Merlion Park. Untuk performance kolaboratif pertama, penulis memberi judul “I’m A Tourist”, dan dalam performance kedua, penulis berimprovisasi dengan judul “Please, Take A Picture of Me”.
Sebuah solo performance --di luar acara yang berlangsung-- berjudul “I’m Celebrating My Country #1” kemudian menjadi proses uji coba penulis. Dengan menggunakan busana perempuan adat Jawa, lengkap dengan sanggul dan kain panjang serta wajah glossy, penulis berjalan mengikuti rute dari Wisma Indonesia dan mengikuti upacara 17 Agustus-an dari luar pagar. Kemudian menuju The Substation dan tanpa alas kaki menaiki bus kota dan berjalan sepanjang Orchard Rd, memotreti suasana dengan perangkat kamera manual yang selalu tersandang, lalu memasuki stasiun MRT (Mass Rapid System) dan naik ke dalam gerbong ke arah perbatasan Malaysia, kemudian kembali lagi ke kawasan Orchard. Performa yang penulis lakukan ini cukup menarik bagi pribadi. Sebuah potret Singapura. Sepanjang jalan tak penulis temukan wajah-wajah yang keheranan berlama-lama dan kerumunan orang memperhatikan penulis. Wajah-wajah yang ada adalah wajah-wajah yang hanya terpana sejenak, lalu kembali acuh dan kemudian mereka melanjutkan kegiatannya. Baik di bus kota dan MRT, hal tersebut menjadi pemandangan biasa, profil tua-muda dan anak-anak yang menoleh sejenak kemudian kembali tepekur menikmati musik dari telinga-telinga yang dipenuhi kabel walkman , radio dan handphone. Hingga saat terakhir pun tak ada polisi atau petugas ketertiban umum menghampiri penulis. Sungguh pemandangan menarik, bila dibandingkan dengan di negara sendiri.
Acara AIM Festival diselenggarakan selama 3 tahap (Juli-Agustus-September) di berbagai tempat, termasuk public space seperti Taman Raffles (Raffles Landing Site, Singapore River), Merlion Park dan Hong Lim Park. Secara beruntun para peserta hadir bergantian semenjak pertengahan tahun hingga akhir tahun yang berakhir dengan pameran dokumentasi acara tersebut. AIM Festival tidak hanya berupa performance, namun juga sangat padat dengan diskursus. Diskusi dan wawancara acapkali dilakukan di berbagai institusi seni di Singapura, antara lain The Substation dan kebetulan saat itu tengah berjalan acara Marine Parade oleh The Necessary Stage). Penulis dan rombongan mendapatkan kesempatan bergiliran untuk melakukan presentasi (Artist Talk), antara lain di LASALLE SIA College of Art dan di NAFA (Nanyang Academy of Fine Art).
Setelah eksistensi ‘performance art’ dihapuskan dan terhenti hingga beberapa lama. pemerintah Singapura dengan kebijaksanaan barunya menjadi lentur terhadap keberadaan genre ini.
Setengah dekade ini, acara-acara performance art menjadi marak dan hadir di banyak acara bahkan mendapat support dari pemerintah serta menjadi agenda peristiwa seni setiap tahunnya di antara acara-acara sporadis lainnya. Keberadaan institusi seni ‘resmi’ macam Singapore Art Museum, The Substation, The Necessary Stage juga dibarengi dengan keberadaan galeri Plastique Kinetic Worm, The Arts House, The Sculpture (kini telah tutup), The Sunseekers, KYTV [Kill Your Television], tsunami.net, Instinct Gallery, P-10 hingga Your Mother Gallery dan sebagainya. Dua galeri yang disebut belakangan ini terletak di blok rumah susun sederhana di kawasan Kampong Malay dan Little India. Kedua galeri ini memiliki ruang-ruang yang cukup jelas pembagiannya sebagai tempat pengembangan wacana. Secara rutin diberikan mentoring atau pun workshop tentang sejarah seni di celah antara ruang galeri menuju ruang dapur (P-10). Meski ruangan sempit, namun tidak mengurangi luas arti keberadaan pengetahuan sekaligus sebagai sarana atau forum tukar pikiran (brain storming). Sama halnya dengan keberadaan Your Mother Gallery (nama ini seringkali diplesetkan rekan-rekan Indonesia sebagai “Galeri Mbokmu”), terdiri dari dua ruang berseberangan di lantai dua yang sangat sederhana dan berfungsi sebagai rumah, galeri dan studio tempat berkarya.
Institusi-institusi tersebut di atas merupakan ruang produksi bagi berbagai hal yang berkenaan dengan seni performa, pun sebagai sarana discourse. Selain institusi, keberadaan komunitas seniman seperti The Artist’s Village (TAV) menjadi satu tonggak kebangkitan dalam keberadaan ‘performance art’ di Singapura. Meski publik melihatnya dalam kondisi ‘vakum’, namun sebetulnya secara laten, komunitas ini tetap ‘hidup’ dan berkembang, meski harus di ‘negeri orang’.
TAV seringkali dianggap sebagai sebuah ‘oasis’ tak hanya bagi keberadaan secara fisik, namun juga spiritual. TAV juga berperan sebagai pusat pembelajaran dan pelatihan seni. Beberapa artisnya masih tetap meneruskan keberadaan organisasi, meski beberapa lainnya memilih berada di luar kelompok dan meneruskan karirnya masing-masing. Kegiatan TAV yang utama adalah mempromosikan seni kontemporer agar menjadi pemahaman yang lebih baik baik bagi berbagai prakteknya dan kontribusinya kepada masyarakat. Fungsi TAV adalah sebagai studio atau pun ruang pameran yang bertempat di berbagai tempat publik termasuk tempat kediaman mau pun ruang komersial, taman-taman kota dan situs-situs bersejarah, selain ruang seni, galeri, akademi seni setempat dan lembaga-lembaga. Melalui acara-acara tersebut, tampaklah tujuannya dalam investigasi ke arah isyu-isyu sejarah, sosial dan politik yang bermaksud mencapai audiens yang lebih luas lagi. Pada kenyataannya TAV memang banyak berperan dalam sejarah seni di Singapura selama dua dasawarsa lebih ini. Meski hidup dan berkembang di masa krusial, namun keberadaannya sebagai lembaga yang banyak menyelenggarakan brainstorming dalam mengembangkan wacana lokal diikuti dengan networking yang telah dilakukan hingga terjadi perkembangan wacana sebagai hasil pertemuan even-even internasional uang acapkali mereka selenggarakan.
Para seniman performa yang berdiri di bawah bendera TAV antara lain: Tang Da Wu, Lee Wen, Jason Lim, Jeremy Hiah, kAi Lam, Woon Tien Wei, Dennis Tan, Agnes Yit, Juliana Yasin, Zulkifli Mahmoed, dan lain-lain. Mereka berurutan dari generasi lama hingga generasi baru. Para seniman tersebut umumnya memiliki ‘jam terbang’ yang sangat tinggi. Seperti halnya Da Wu sempat tinggal hingga 20 tahun di Inggris untuk studi dan berkiprah di seni sekaligus berprestasi di forum internasional selain menjadi dosen di institusi seni Singapura. Demikian juga Lee Wen. Terkenal dengan sebutan “Yellow Man’’, Wen merupakan tokoh senior selain Da Wu yang juga sangat dihormati di Singapura dan rekan-rekan performer, organizer serta para periset performance art dunia. Tahun lalu ia memperoleh penghargaan Cultural Medallion di negaranya.
Juliana Yasin termasuk generasi anyar yang memiliki fokus berikut ‘jam terbang’ dan prospeknya. Alumnus studi seni rupa di Australia yang sempat menjadi pengajar seni di Kuala Lumpur ini acapkali mendapat undangan performance dan workshop serta residensi ke berbagai negara selain sebagai periset untuk Singapore Art Museum dan Asia Art Archive.
TAV di masa datang telah menentukan programnya dengan terus berkreasi dalam karya-karya yang menarik dan bermakna dalam ruang-ruang yang berbeda sebagaimana laiknya menumbuhkan kawasan yang lebih kuat dan jaringan internasional.
Para praktisi lainnya adalah antara lain: Khairuddin Hori dikenal pula sangat produktif dalam menyelenggarakan event di bingkai performance art dan seni kontemporer lainnya hingga memiliki kelompok kurator internasional di Asia Tenggara bernama Telekollectief. Selain mereka, tercatat pula nama-nama seperti Rizman Putra, Noor Ibrahim Effendy, Singlish Punk serta para ‘new comer’ antara lain: Lina Adam, Natasha Wei, Chin, Krist Quck, Sabrina Koh dan Ezzam Rahman serta lainnya lagi sebagai bukti bahwa regenerasi selalu terjadi dalam ‘performance art’.
Dengan garis bawah, penulis mencatat bahwa para praktisi seni performa di Singapura umumnya memiliki pendidikan strata satu atau pengalaman sebagai seniman internasional –karya-karyanya diakui di berbagai forum dan event di manca negara. Selebihnya mereka memiliki pengalaman studi lainnya baik di jenjang non-diploma hingga tingkat doktoral. Di sini, penulis melihat bahwa untuk menjadi performance artist, sangat diperlukan wacana yang terukur. Maka tak heran, bila tidak setiap orang di Singapura dapat ‘sah’ (baca: diakui) sebagai performance artist. Hal ini menunjukkan, disadari atau tidak, sistem kuratorial tetap berlaku dalam genre ini, sebagai satu sisi pertanggungjawaban setiap praktisi dalam melakukan aksi performance art-nya berikut konsepnya masing-masing hingga mendapatkan ‘cap’ layak atau tidak dalam komunitas genre ini.
Hal tersebut bermakna, bahwa meski pun pada dasarnya seni performa terbuka luas bagi siapa saja, namun ‘seleksi alam’lah yang menentukan. Tentu saja, ‘seleksi alam’ ini berdasarkan kondisi tingkat wacana masyarakatnya.
Beberapa kegiatan yang telah terselenggarakan setelah era kebangkitan kembali seni performa di tanah singa ini selain festival AIM I & II antara lain: Unframed-7, Live Art @ Studio 19 yang digagas oleh kAI Lam, Future of Imagination #1, Future of Imagination #2 (2004) dan Future Imagination #3 (FOI#3) yang digagas oleh Lee Wen sejak 2003, serta Fetter Field sebagai acara ‘paralel’ selain FOI#3 bagi para yunior, serta masuknya ‘performance art’ ke dalam festival seni macam Singapore Fringe Festival yang digagas setiap tahun sejak 2005 lalu hingga 2007 nanti oleh Alvin Tan (atas nama The Necessary Stage), serta masih banyak lagi even-even sporadis lainnya.
Singapore Fringe Festival tahun ini menambahkan judulnya dengan M1 atau “M1 Singapore Fringe Festival 2006” (M1SFF06) merupakan salah satu festival ‘pinggiran’ internasional terbesar di Asia. Tahun ini bertema “Art & Healing”, sementara untuk tahun depan (2007) bertema “Art & Disability”. Dengan menggunakan istilah ‘live art’, penampilan performance art dalam festival seni ini mengikutkan karya dari Sophia Natasha Wei bersama Juliana Yasin berjudul “Heal the Ritt between Us” dan karya Lee Wen berjudul “Almost Untitled: (end of the world stories)”, bertempat di kawasan Esplanade. Acara yang berlangsung selama hampir 2 minggu (22 Februari – 5 Maret) ini juga menyertakan Chumpon Apisuk (Thailand) dalam acara Residence Fringe dengan karya berjudul “Labour sans frontièrs” di Substation Gallery selama 3 hari (22-24 Februari). Diskusi (Fringe Speak) tentang “Art and Sharing” juga dilakukan oleh Felicia Low, Noor Effendy Ibrahim, Paul Rae, Sophia Natasha Wei dan Juliana Yasin di Substation Guinnes Theatre. Chumpon Apisuk sekali lagi hadir dalam acara Fringe Speak, bersama Ching Suan Tze (Singapura) dan Blue Dragon (Vietnam) membicarakan “Art And Social Healing”. Selain itu Chumpon Apisuk juga diminta bicara mengenai “Concrete House: Art Centre Not Shopping Centre”. Fringe Speak menghadirkan juga Genevieve Pernin (Perancis) dan Sophie Natasha Wei bersama Juliana Yasin membahas soal “Healing the Wounded” di Singapore Art Museum Auditorium. Herman Chong dan Zai Kuning dalam forum Fringe Speak berikutnya membicarakan “Resident Fringe: Processes” saat hari terakhir acara M1SFF06.
Di akhir Maret dan awal April berikutnya, rangkaian lecture dan workshop menjadi program Singapore Art Museum untuk publik dalam tajuk “Off The Wall”. Bertema “Performance as Method”, program ini menghadirkan masterclasses bersama para performance artist : Tang Da Wu, Tran Luong (Vietnam) dan Mideo M Cruz (Filipina). Program yang merupakan bagian preprogram The Future of Imagination #3 ini diakhiri dengan acara diskusi terbuka bersama kAI Lam dan Noor Effendy Ibrahim.
Dalam penyelenggaraan FOI#3 (Future of Imagination #3), berlangsung lancar dan sukses menurut penulis. Meski sebelumnya terjadi peristiwa yang tidak diharapkan sewaktu berada di Kuala Lumpur dalam penyelenggaraan SatuKali Performance Festival, namun keberlangsungan FOI#3 tetap tidak terusik sama sekali. Acara FOI memang telah terbukti sebagai sebuah festival seni performa bertaraf internasional yang telah dinominasikan sebagai salah satu dari 10 acara kesenian top lainnya di Singapura (The Straits Times, 29 Desember 2004).
Para seniman yang hadir antara lain Arahmaiani (Indonesia), Arai Shin-Ichi (Jepang), Chumpon Apisuk (Thailand), Paul Couillard (Kanada), Mideo M Cruz (Filipina), Nezaket Ekici (Turki/Jerman), Pascal Grau (Swiss), Katak Kudung (Singapura), Essi Kausalainen (Finlandia), kAI Lam (Singapura), Khairuddin Hori (Singapura), Ray Langenbach (Malaysia), Lee Wen (Singapura), Jason Lim (Singapura), Jamie McMurry (Amerika Serikat), Helge Meyer (Jerman), Boris Nieslony (Jerman), Rizman Putra (Singapura), Shu Yang (Cina), Tang Da Wu (Singapura), Tran Luong (Vietnam). Dalam rangkaian performance yang dihadirkan, terjadi sebuah kecelakaan dalam seni performa Paul Couillard saat membalikkan bongkahan balok es batu. Jari-jari tangannya berdarah dan diagnosa dokter menyatakan terjadi fraktur (keretakan tulang). Namun kondisi ini terus berjalan dan menjadi bagian dari karyanya hingga di hari terakhir sebelum penutupan acara. Ia meletakkan kedua belah tangannya di atas proyektor OHP dan di layar proyektor tampak jari-jarinya menunjukkan tampilan visual yang memukau karena sinar dari mesin OHP dan saat Paul mulai membuka bebat perban jari-jarinya hingga selesai, tampilan visual semakin memukau. Tak terpikirkan sebelumnya bahwa OHP dapat menyajikan sebuah karya performativity dalam ruang seni performa, sementara penulis lebih sering menggunakan OHP sebatas sebagai penyaji bahan presentasi berupa tulisan statis. Presentasi ini membuat kagum dan sekaligus haru.
Selain para performer, hadir juga para pembicara: Nani Kahar (Malaysia), Thomas J. Berghuis (Netherland/ Australia), Sergio Edelsztein (Israel) dan Ko Siu Lan (Cina-Hongkong) membicarakan “Is Performance Art today in a state of ‘menopause’?” dengan moderator Ray Langenbach (Amerika Serikat/Malaysia) di forum I, serta forum II mengenai “Performance Art in China and Hong Kong, radical practice or hype?” oleh Shu Yang (Cina-Beijing), Ko Siu Lan dan Thomas J. Berghuis dipandu oleh Richard Chua (Singapura) dalam bahasa Mandarin. FOI#3 berlangsung selama 4 hari (10-14 April 2006) di Singapore Art Museum dan The Substation.
Bersamaan dengan FOI#3, diselenggarakan pula festival performance art bagi performer Singapura dan ‘new comer’ lainnya bertajuk “Fetter Field, Singapore PerformanceArt Event” yang diikuti oleh Natasha Wei; Juliana Yasin; Krist Quck; Sabrina Koh; Agnes Yit; Jeremy Hiah; Chin; Lina Adam; Ezzam Rahman dari Singapura, Cheng Guang Feng dari Cina dan Isabelle Young Sook Park dari Korea. Para peserta tersebut adalah siswa dan alumni dari institusi seni di Singapura (LASALLE SIA College of Art dan Nanyang Academy of Fine Arts) selain sebagai penduduk lokal.
Kegiatan seni performa di tahun 2006 ini masih berlanjut. Even Singapore Art’s Festival bulan Juli lalu menampilkan seni performa sebagai salah satu agenda seninya. Acara ini menyertakan performance artist antara lain Rizman Putra dengan performancenya di depan gedung parlemen setempat. Rizman terkenal dengan upaya eksploratif dan eksperimentalnya dalam performance yang juga melibatkan perangkat audio visual dan digital.
Acara seni performa yang bersifat sporadis lainnya juga bermunculan, antara lain oleh Lee Wen dan kAI Lam dalam “Give Peace A Chance Redux” tanggal 11-15 September lalu. Bertempat di pertokoan sekitar kawasan foodcentre Kopitiam dekat Singapore Art’s Museum, mereka mengajak audiens dan performer lainnya untuk bersama-sama tidur selama 5 menit, 10 menit, 30 menit atau lebih dari sejam di ranjang perdamaian sebagaimana performa Yoko Ono dan John Lennon di masa lalu (Bed for Peace). Acara yang dikoordinir bersama Singapore Management University Concours Arts Fest 2006 ini berlangsung setiap hari sejak pukul 11 siang hingga 8 petang. Performance ini dimaksudkan sebagai peringatan peristiwa 11 September dan anti teroris ke seluruh dunia, sekaligus sikap anti perang dan kekerasan demi perdamaian dunia.

Di Malaysia
Malaysia sebagai negara tetangga terdekat Indonesia, selain Singapura, dari segi sektor ekonomi negara Melayu ini kini tampak melesat ke depan lebih jauh. Meski begitu, kondisi maju perekonomian bangsa ini belum dapat dipastikan kesejajarannya dengan tingkat apresiasi keseniannya.
Performance art masih saja menjadi barang ‘asing’ di negeri ini. Hal ini dapat dilihat dari sajian materi wacana di beberapa situs internet. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa tari dalam kondisi trance sebagai performance art (Antares: 2003).
Sama seperti di Indonesia, pemahaman terhadap performance masihlah sesuatu yang dianggap tidak bernilai dalam mendatangkan uang atau pun ‘balik modal’. Cara berpikir umum dalam masyarakat Malaysia dan industri kreatif seringkali menyesuaikan diri pada ide-ide konvensional dan tradisional (Esa, Nazim : 2006).
Kehadirannya yang tercatat semenjak tahun 1974, tetap tidak mengembangkan studi wacana atas genre ini. Pada waktu itu, Salleh Ben Joned melakukan aksi buang air kecil sebagai sebuah ritual zen di atas selembar kertas yang memuat manifesto yang disusun oleh Redza Piyadasa dan Sulaiman Esa untuk pameran “Towards Mystical Reality”.
Kurang lebih satu setengah dasa warsa lalu, performance art memasuki wacana di wilayah negara mayoritas berpenduduk muslim ini. Ray Langenbach, seorang warga Amerika Serikat dan berdomisili di Malaysia memainkan sebuah rapat umum tentang politik di University Sains Malaysia, Penang di tahun 1990. Ia merancang sebuah ‘political rally’ dan memberikan pidato mengenai sebuah isyu politik yang tidak berkaitan dan serta merta membuat polisi kampus menghalangi dan memberhentikan acara tersebut. Ray juga pernah meneguk cairan darahnya sendiri di Malaysia dan luar negeri.
Tahun 1991, Wong Hoy Cheong mengkoreografikan sebuah performance yang diambil dari video "Sook Ching" tentang pendudukan Jepang saat pembasmian etnik Cina-Malaysia selama Perang Dunia ke-2. Video tersebut merupakan sebuah dokumentasi sekejab berikut orang-orang yang selamat menceritakan pengalaman mencekam mereka selama pendudukan. Di tahun yang sama, Wong Hoy Cheong mengkurasi sebuah pertunjukan ‘2 Installations’ di galeri Malaysian Institute of Art bersama dengan Liew Kung Yu dan Raja Shahriman.
Sementara itu, Liew Kung Yu berkolaborasi bersama Marion D’Cruz dalam sebuah performance berjudul “Who am I”, dimana ia membaca Kitab Injil dari altar Cina dan Marion D’Cruz berdansa dalam salah satu karya seni Raja Shahriman. Masih ditahun 1991, Liew Kung Yu juga berkolaborasi bersama Aida Redza dalam ‘The Arrival of Puteri Oriental’ dimana Aida berdansa mengitari shopping mall dengan menggunakan sebuah perlengkapan busana tradisional yang menyolok mata membawa iklan-iklan majalah glossy, sebuah ejekan ringan yang ditujukan kepada masyarakat konsumerisme yang tengah tumbuh di Malaysia.
Kemudian ditahun 1993, Wong Hoy Cheong membuat ‘Anak Semua Bangsa', dimana ia mendapat jawaban penonton atas pertanyaan pada sebuah bentuk yang “Jika seorang Martian bertanya apakah (kemana) rasmu, bagaimana kamu menjelaskannya?”
Wong Hoy Cheong pun lalu menjadi bagian dari ‘Warbox, Lalang, Killing Tools’ bersama Raja Shariman dan Bayu Utomo Radjikin di tahun 1994 sebagai respon yang ditujukan pada 116 aktivis kemanusiaan yang tanpa hukum sepenuhnya ditahan oleh ISA (Internal Securities Act) di tahun 1987. Untuk karyanya yang berjudul “Lalang”, ia membuat instalasi tanaman ilalang (rumput) di National Art Gallery, menyemprotnya dengan cairan pembunuh rerumputan, dan kemudian memangkasnya dan membakar semua tanaman ilalang tersebut sebagai sebuah metafora budaya, sejarah dan politik. Ilalang adalah tanaman asli bagi Malaysia dan tumbuh liar serta tampak seperti gangguan bagi penduduk setempat.
Tahun 1994, para seniman muda macam Noor Azizan Rahman Paiman menampilkan dirinya terbungkus lumpur untuk pameran “Earthworks”. Di tahun ini, terjadi kasus atas salah satu warga Malaysia yang tengah berdomisili di negara tetangganya, Singapura. Sharaad Kuttan, demikian nama sang pemuda dari negeri jiran ini, tengah menjadi salah satu editor kolom “Commentary” di sebuah jurnal kebudayaan setempat. Beberapa tulisan berupa teori dan kritik yang berkenaan dengan kasus performance art karya artis Singapura, Joseph Ng (1994) disensor oleh badan sensor setempat. Penyensoran ini mengakibatkan Kuttan mendapati visa (ijin tinggal) --untuk 14 tahun masa studinya-- di Singapura dicabut.
Munculnya beberapa karya performance oleh beberapa performer di tahun-tahun tersebut macam “Lalang” oleh Wong Hoy Cheong, serta intervensi menuju komersialisme karya Liew Kungyu, kemudian karya-karya gerak ‘hybrid’ oleh Marion D’Cruz macam “Um” yang sangat mempengaruhi kesadaran feminis, dan aksi tusuk jarum potret obituari oleh Chang Yoong Chia, menunjukkan adanya perhatian atas wacana seni performa di negeri jiran ini.
Noor Azizan Rahman Paiman menampilkan seni performanya sekali lagi di tahun 1999 di Jepang dengan berjualan ice cream. Roslisham Ismail (Ise) membuat sebuah karya skulptur di luar sebuah kotak kosong ke ukuran 27m³ dan menjatuhkan semuanya ke bawah, saat pembatasan kepatuhan ukuran luas National Art Gallery untuk sebuah kompetisi seni di tahun 2004. Space Spirit Studio akhir-akhir ini menjalankan musim ke sepuluh (10th season) dari ‘One Night Stand’, sebuah penampilan informal dan sessi dialog antara seniman dan penonton meliputi berbagai disiplin ilmu, dari arsitektur hingga drama.
Wacana yang telah berkembang ini menjadi gagasan bagi beberapa warganya yang tengah berdomisili di luar negeri macam Chu Chu Yuan untuk menyelenggarakan acara festival seni performa yang pertama pula di Yangoon, Myanmar. Di bawah payung NICA (Networking & Initiatives for Culture & the Art), acara yang berlangsung 29-30 Januari 2005 tahun lalu ini berjudul “Borders: withIn withOut” dan diikuti oleh para performer dari Swiss, Finlandia, Singapura, Thailand, Amerika Serikat, Jepang dan Malaysia sendiri (Chu Chu Yuan, Sharaad Kuttan dan Ray Langenbanch).
Beberapa bulan kemudian hadir peristiwa performance art di Kuala Lumpur berjudul “StopOver”. Sebelumnya, StopOver hadir di Singapura (18-19 Mei 2005) yang didukung oleh Singapore’s National Arts Council dan the Japan Foundation.
Tepatnya tanggal 29 dan 30 Mei 2005 di UBU (University of Bangsar Utama) Space, diselenggarakan a contemporary performance art convention, yakni acara seni performa sebagai bagian dari kerjasama antara para performer Jepang-Singapura dan Malaysia. Acara ini disponsori The Japan Foundation dan Arts Council serta dikelola oleh kAI Lam (The Artist Village, Singapura), Juliana Yasin (Asia Art Archive), Ili Farhana & Saiful Razman (UBU) bersama dengan Seiji Shimoda (NIPAF, Jepang).
Acara yang semula digagas antara Jepang dan Singapura, ini digerakkan hingga hadir pula di Malaysia. Di antara performer Jepang (Sheiji Shimoda, Makoto Maruyama, Azusa Okumara, Harumi Terao, Kana Fukushima, Kazuhiro Nishijima, Midori Kadokura dan Rei Shibata) serta para performer Singapura (Juliana Yasin, kAI Lam, Rizman Putra dan Andrée Weschler), hadir para performer yang mewakili Malaysia adalah: Ahmad Fuad, AngkasawanegarA (atau Malaysian Astronauts, terdiri dari: Saiful Razman, Rahmat Haron dan Rafizan dengan karya mereka berjudul ‘Watching Me Watching You’), Caesar Chong, Ray Langenbanch dan Zaslan Zeeha. Acara ini disertai pula dengan forum dialog berupa presentasi dan artist talk. Ketua UBU, Hishamuddin Rais mengkomentari acara ini dalam artikelnya bahwa ‘Gila ini ada 999 macam’, yang ia kutip dari neneknya sewaktu ia masih kecil.
Di tahun itu pula mulai dirancang acara untuk tahun depan. Ray Langenbanch bersama Liew Kungyu menyelenggarakan acara SatuKali Performance Art Festival & Symposium (6-9 April 2006) di Kuala Lumpur.
Acara ini bertujuan untuk menstimulasi performance art di Malaysia dan menstimulasi apresiasi kritik atas bentuk seni di antara para artis, kritikus dan penonton di Malaysia. Harapan penyelenggara bahwa sejalan dengan acara ini, para artis lokal akan mulai melihat performance art sebagai ‘viable channel’ untuk ekspresi artistik mereka, dan sebuah bentuk eksplorasi yang berharga. Acara ini juga diharapkan, melalui workshop, diskusi para artis akan menjadi katalisator bagi siswa-siswa seni dan seni pertunjukan di Malaysia serta lainnya dalam mempertimbangkan performance art sebagai bentuk seni yang terus hidup melalui ekspresi atas kepedulian dan tema mereka. Selain itu penyelenggara juga berharap Satu Kali akan mengembangkan kesempatan dalam jaringan kerja (networking) antara para artis dan kelompok seniman setempat dan internasional, serta membawa Malaysia ke sirkuit bangsa-bangsa Asia penyelenggara acara-acara performance art. Dengan demikian akan mengembangbiakkan berbagai simposium internasional, pertemuan, residensi untuk seniman manca negara dan festival. Panitia berharap hal ini akan mengarahkan berbagai pengelolaan acara di Malaysia oleh lembaga-lembaga atau seniman lainnya. Diharapkan pula para penyelenggara dari negara-negara lain akan mulai mengundang para performance artist Malaysia ke acara-acara mereka.
Menginjak hari-H di tahun 2006 di bulan April, SatuKali Performance Art Festival dihadiri oleh berbagai artis lokal dan manca negara. Simposium seni performa yang pertama di Malaysia ini juga menghadirkan para cendekiawan dan praktisi lokal dan internasional di bidang performance art. Penyelenggaraan festival seni performa internasional yang ke-satu (pertama) kalinya ini didukung pula oleh penyelenggaraan FOI#3 yang digagas oleh Lee Wen di Singapura.
Hari pertama, berlokasi di mfx (sebuah rumah luas berfungsi sebagai studio desain, animasi dan effects), selepas senja (petang hari) berlangsung performance karya Aisyah Baharuddin (Malaysia) berjudul “Tukar Pakai”, Akbar a.k.a. Bebe Cobra (Indonesia/ Malaysia) dengan judul “I (still) hate borders”, Arahmaiani (Indonesia) dan karyanya “Breaking Words”, Lee Wen (Singapura) berikut karya “Almost Untitled (End of World Stories)”, Jason Lim (SIngapura) dengan “Last Drop”, Boris Nieslony dan Helge Meyer (Jerman) berkolaborasi dalam “Meeting”, Rahmat Haron (Malaysia) dengan “No Title” dan Tran Luong (Vietnam) dengan karya “No Title” pula. Sebelumnya workshop juga digelar di hari pertama ini –bertempat di The Australian High Commission--, dengan menampilkan presenter: Chumpon Apisuk serta kolaborasi bersama antara Helge Meyer dan Jamie MacMurry (Amerika Serikat) selama 2 hari selepas siang hari dan keesokan harinya di hari kedua.
Menginjak hari ke-2, selepas siang workshop dilanjutkan dan kelas bertambah dengan hadirnya Tang Da Wu sebagai presenter serta kelas untuk lecture & artist talk yang menghadirkan Woon Tien Wei dengan sajian “Virtual Marathon” dan Thomas J. Berghuis (Australia/ Belanda) dengan makalah “Performance in New Media” berikut Ray Langenbach selaku moderator. Petang hari, sebelum rangkaian performance dimulai, terlebih dulu menghadirkan para performer di hari pertama untuk memberikan penjelasan konsep karya masing-masing disertai dialog dengan audiens. Dialog ini cukup ramai dengan berbagai hunjaman pertanyaan dan komentar dari floor serta para peserta dan panitia. Pertanyaan banyak ditujukan kepada Arahmaiani sehubungan dengan aksi penulisan kata “Allah” dalam huruf Arabic di atas piring putih yang serta merta kemudian ia lemparkan ke dinding hingga pecah berkeping-keping. Karya Iani ini pernah dihadirkan di festival seni performa international “Ambulance” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2005).
Iani dalam karyanya bermaksud menghancurkan segala kata yang mewakili berbagai bentuk hal yang menjadi pikiran manusia paling utama dalam hidup mereka. Demikian bila dihubungkan dengan permintaannya kepada audiens untuk menuliskan sebuah kata yang tengah menjadi fokus pikiran masing-masing. Setiap kata pun tertoreh di atas permukaan piring porselen warna putih. Setelah terkumpul dan diucapkan satu per satu oleh Iani sambil mendeskripsikan maknanya berdasarkan si penulis kata, serta merta satu demi satu piring-piring tersebut dilemparkan ke dinding.
Kata-kata tak menjadi makna bila hanya tersurat (tertulis). Esensi kata hanya pada makna itu sendiri yang berada di baliknya (beyond). Makna yang tersirat inilah yang menjadi spirit utama dalam pikiran manusia berikut sikap hidupnya saat memilih kata-kata itu sebagai fokus dalam pikirannya. Kata-kata pun tak bermakna dan perlu dihancurkan. Karena itu hanya berupa selongsong belaka. Menurut penulis, karya Iani ini menarik dan sangat mudah dipahami karena berupa kesadaran manusia atas ‘pemberhalaan’ hal-hal berupa materi yang perlu ditiadakan. Manusia tidak perlu terpaku dan menghamba pada kata. Demikian pula saat kita menuliskan kata yang merujuk pada Zat Tertinggi, yakni “Allah”. Tuhan tidak berada dalam tulisan kata “Allah” dan manusia tidak perlu menyembah tulisan itu. Roh Tuhan jauh lebih besar dari kata itu sendiri, pun tidak seluas piring yang dibanting Iani saat itu. Tuhan tidak memerlukan medium yang derajatNya disamakan dengan benda. Esensi keberadaan Tuhan ada dalam diri (kalbu) manusia, yang menggerakkan pikiran dan perasaan serta tingkah laku masing-masing. Maka, pada saat kita masih terpaku dan menyembah tulisan kata “Allah”, lalu apakah bedanya dengan penyembahan berhala?
Selanjutnya acara performance dimulai dengan penampilan Paul Cuillard (Kanada) berjudul “Normal Life” dan Essi Kausalainen (Finlandia) dengan karyanya “In Light” yang masing-masing berdurasi kurang lebih 5 jam. Paul duduk dengan setengah lutut memegang sebongkah besar balok es hingga balok tersebut membuat lekukan di atas balok karena hembusan nafas dan sentuhan kedua lima jari Paul di sisi kiri dan kanan balok membuat ceruk 5 lubang di kiri kanan balok hingga hampir bersambungan satu sama lain. Sementara Essi berdiri di atas pasir lumpur dengan jaring yang diikatkan ke tubuhnya dan menyebar ke berbagai sudut di depannya. Performance lainnya dilakukan oleh Chumpon Apisuk (“Hearts”), Caesar Chong (Malaysia) dengan judul “body+space+memory”, Mideo M Cruz (Filipina) dengan judul “Hoax Crusader Project”, Pascale Grau (Swiss) berjudul “Ovation”, Khairuddin Hori (Singapura) dengan judul “Babeliographia”, Noor Effendy Ibrahim (SIngapura) dengan judul “Circus#1”, Saiful Razman (Malaysia) dengan judul “I Love You” serta ‘tambahan’ performer dari Malaysia bernama Rajif (tak tercantum dalam daftar dan poster acara). Pada penampilan pertamanya di forum internasional ini, Rajif meminta audiens untuk segera mengatur kursi dan arah berdiri masing-masing menuju kiblat Ka’abah di Mekkah. Kemudian ia membuka bajunya hingga tinggal cawat (celana dalam). Setelah itu ia membuka kaleng bir dan membuka plastik isi ham (daging babi olahan yang telah matang) yang segera diminum dan dilahapnya sambil mengumandangkan surat al-Baqarah (salah satu surat dalam al-Qur’an, kitab suci penganut agama Islam). Kemudian Rajif mengenakan kopiah dan sarung serta baju ‘koko’ sebagai busana yang lazim digunakan muslimin di Malaysia saat melakukan ibadah shalat, masih dengan membacakan ayat-ayat dalam al-Qur’an sembari menenggak bir dan mengunyah ham. Penampilan Rajif ini serta merta membuat audiens terkejut dan terpaku, beberapa (termasuk non-muslim) menyatakan pendapatnya tentang penampilan Rajif yang sangat keras mengenai sensitivitas sosial, yakni: agama.
Esoknya, di hari terakhir, menurut jadwal dihadirkan sebuah diskusi (round table discussion) dengan para presenternya yakni: Lee Wen (Singapura), Nani Kahar (Malaysia/Amerika Serikat), Woon Tien (Singapura) dan Lauren Bain (Australia/ Malaysia) serta dipandu oleh moderator Sharaad Kuttan (Malaysia). Acara diskusi meja bundar dalam “Warisan Badan, Sighting Malaysian Performance” ini membicarakan secara kritis kenapa performance art tidak bisa hadir di Malaysia, dengan pendekatan beberapa pertanyaan dari berbagai perspektif para ahli di bidang arsitektur, teater politik, media baru, seni rupa dan seni performa yang dilanjutkan dengan dialog terbuka dengan publik. Malam harinya juga telah dipersiapkan rangkaian acara performance dari para performer [Arai Sin-Ichi (Jepang), Jamie MacMurry, Helge Meyer, Hisham Rais (Malaysia), Nezaket Ekici (Turki/ Jerman), Boris Nieslony (Jerman), Shu Yang (China) dan Tang Da Wu serta Chang Yoong Chia (Malaysia) yang telah mengawali performancenya sejak siang hari].
Namun acara di petang hari terakhir tersebut batal dilaksanakan, sebab lokasi mfx tiba-tiba ditutup dan dijaga oleh polisi patroli ketertiban umum di Kuala Lumpur. Mereka menyatakan acara SatuKali Performance Art Festival dilarang berlanjut. Pihak penyelenggara diinterogasi dan para pengunjung diminta memperlihatkan kartu identitas masing-masing. Penutupan tersebut dikarenakan adanya pihak yang berkeberatan dengan aksi performance mengenai agama yang tengah dianut oleh mayoritas penduduk di Malaysia, walau para performernya mengaku sebagai penganut agama tersebut. Malam hari itu juga para peserta --setelah berkumpul sejenak-- di tempat penginapan yang disediakan oleh panitia, beberapa orang bergegas segera beranjak melewati perbatasan negara menuju Singapura, termasuk Arahmaiani. Esok hari telah menanti rangkaian acara FOI#3 (Future Of Imagination #3) di negara tetangga tersebut.
Tidak ada review mengenai kasus seni performa tersebut, usai acara penutupan berlangsung. Tampaknya setelah intervensi oleh polisi, tak boleh ada penulisan dan diskusi terbuka tentang SatuKali Performance Art Festival. Beberapa orang menyatakan kasus tersebut tengah dipeti-eskan. Meski begitu, terjadi beberapa diskusi melalui e-mail dan mailing-list. Menurut Arahmaiani, tanggal 9 Juli 2006 dilaksanakan sebuah sidang bagi kasus tersebut. Ia pun bertolak masuk ke negeri jiran kembali, tanpa terjadi pencekalan. Khabarnya, terjadi pula dialog temu muka antara publik (representative) dan penyelenggara acara serta performer yang bersangkutan dan terdapat beberapa kelompok massa yang mendukungnya. Ray Langenbach menyelenggarakan forum diskusi dengan mengundang Goenawan Mohammad dari Indonesia untuk membicarakan seni dan intervensi negara serta pemutlakan (totalisasi) nilai konservatif dalam sebuah negara.


POSISI PERFORMANCE ART
Sebagai Telaah Sosial
Di luar kebingungan dan belum ‘manunggal’nya persepsi publik mengenai ‘performance art’, yang perlu digarisbawahi kemudian adalah: apa manfaat kehadiran performance art ini?
Performance art dalam wadahnya sebagai seni kontemporer, memiliki fungsi sebagai jurnal kehidupan. Tak ubahnya seperti kita membaca suratkabar tiap hari dan langsung melirik pojok favorit berupa kolom kartun Konpopilan atau Timun dan Panji Koming dalam harian KOMPAS. Begitu banyak persoalan yang diperlihatkan. Ada banyak masalah yang terkandung di dalamnya, sebagai mana laiknya substansi sebuah peradaban. Inilah sisi-sisi prismatik kebudayaan. Bagai sebuah berlian yang semakin ditatah dan memiliki banyak sisi akan semakin menimbulkan proyeksi dan refleksi sisi-sisi baru nan maya dan makin memantulkan imaji indah.
Performance art adalah salah satu media ekspresi para senimannya. Apa pun yang menjadi tema, semuanya merupakan representasi sebuah telaah sosial, sekaligus representasi masyarakat itu sendiri, baik individual mau pun kolosal. Berbagai macam tema diangkat dari berbagai macam persoalan yang mereka serap dan alami atau pun pikirkan dari keberadaan mereka sebagai makhluk sosial. Bagai sebuah jurnal, kehadiran seni performa adalah memberikan upaya ‘enlightment’.

Studi Manajemen Seni
Pada dasarnya, kata ‘art’ (bahasa Inggris) berasal dari kata ‘ars’ (bahasa Latin) yang berarti ‘susunan’ atau ‘arrangement’. Maka kata ‘art’ itu sendiri sebetulnya telah mencakup makna ‘pengelolaan’ atau ‘manajemen’. Sementara dalam bahasa Indonesia kata ‘art’ ini diterjemahkan sebagai ‘seni’ yang bermakna ‘kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi atau luar biasa’. Kedua kata berlainan bahasa tersebut bila diambil padanannya, maka kurang lebih akan bermakna sama. Hal ini pun similar dengan kata ‘manajemen’.
Maka, performance art pun pada dasarnya adalah sebuah arrangement dalam koridor konsep manajerial. Ada perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian. Ada visi dan misi, sasaran dan strateginya apa, kondisi internal dan eksternalnya bagaimana, para pemegang keputusannya siapa saja. Ada kekuatan (strengthen) dan kelemahan (weakness), peluang (opportunity) dan juga ancaman (threat). Semua muatan itu sejalan dan menuju pada sikap atas kesadaran ‘where we now’, di ruang mana kita berada, ‘where to go’, ke ruang mana lagi kita akan menuju, ‘how to get there’, melalui lorong dan passage mana sebagai vektor interkonektivitasnya dan ‘how are we progress’, bagaimana progresivitasnya dari waktu ke waktu berikut kondisi dan situasi yang menyertainya.
Kita ambil contoh, seperti Le Corbusier, Leroy, Le Brun, Le Vau atau Le Notre saat merancang bangunan di Prancis. Mereka sangat menyadari bahwa arsitektur menjadi milik masyarakat luas. Meski karya-karya mereka hadir karena pesanan, mereka tetap bebas berkreasi dan sangat memperhatikan gaya arsitektur yang terpadu. Kehadiran bangunan-bangunan sebelumnya sejak dari jaman Romawi, lalu ke bentuk arsitektur Gothic, kemudian Renaissance, Klasisisme hingga Neo-Klasisisme.
Seorang Gustave Eiffel adalah contoh sebuah perubahan radikal yang akhirnya dapat diterima kehadirannya. Sikapnya yang berkeras hati, sekeras dan semenjulang karyanya --sebagai lambang kemajuan teknik di masa perubahan materi akibat revolusi industri— di antara bangunan-bangunan agung konvensional, membuat Menara Eiffel (La Tour Eiffel) yang dibangunnya untuk pameran universal di tahun 1889 ini mengundang banyak kritikan pedas, antara lain dari Alexandre Dumas dan tokoh lainnya di jaman itu. Namun setelah pameran selesai, karya ini tidak jadi dihancurkan dan eksistensinya malah dipertahankan dengan pemanfaatannya bagi teknologi baru (radio, antena TV dan meteorologi). Pada kenyataannya kemudian, hingga kini menara besi ini tampil sebagai karya seni agung nan monumental, justru menambah kecantikan kota Paris sebagai situs berkumpulnya karya masterpiece para seniman dan arsitekturnya. Bangunan besi seberat 8864 ton dan setinggi 320 meter ini terdata paling banyak dikunjungi orang dari se antero dunia.
Performance art sangat memerlukan sebuah manajemen wacana. Pemahaman akan wacana hanya bisa didapatkan dari studi tentang sejarah. Melalui pengetahuan akan sejarah, pemahaman akan lebih mudah hadir dalam perpektif dan pembelajaran pun akan makin melaju, tidak terhenti. Malah menyalakan percikan-percikan ide dan inspirasi berikutnya terus menerus. Mempelajari kekurangan dan kelebihan setiap event dan performa, akan melibatkan rangkaian radar dan filtrasi terhadap ide-ide baru dan pelaksanaannya. Pembacaan maknanya tak terbatas pada manajemen event, networking dan sebagainya, namun juga bagi si pelakunya itu sendiri selaku manajer atas dirinya sendiri, termasuk performance art sebagai institusi. Sebagai sebuah institusi, tentunya membutuhkan dasar pemahaman manajemen tersendiri. Dibutuhkan rangkaian pengetahuan (kognitif), kemudian pemahaman (afektif), barulah produksi atau aplikasi (konatif). Hal ini menghilangkan budaya ‘asbun’ (asal bunyi) yang seringkali ke’kering’an data, selain juga melatih untuk ‘think first’ dan tidak sekedar ‘just do it’.

Ilmu Pengetahuan
Pengetahuan sejarah berdasar pada data obyektif dan akurat, sangatlah penting. Setiap hal dan peristiwa memuat lapisan-lapisan alasan yang tidak terjadi begitu saja. Apa pun benda dan kejadiannya, pastilah tidak berdiri sendiri. Ada berderet rangkaian sebab-akibat yang sifatnya saling bertautan dan melingkari satu sama lain [performance art tidak terjadi secara instan, rangkaian sejarahnya sangat padat dan meliputi berbagai aspek peradaban manusia, tidak hanya aspek seni]. Pengetahuan ini akan membantu pemahaman sekaligus pula mengembangkan ide atas berbagai kreasi selanjutnya. Sehingga tidak jatuh pada ketidakmengertian dan berbagai sikap apatis, namun lebih solusif. Membangun pemahaman atas gagasan yang ingin dicipta dengan melihat kehadiran berbagai manajemen pengalaman dan kerangka referensi serta materi kenyataan terdahulu sebagai sebuah kelahiran konsep manajerial dan mengembangkan konstruksi gagasan-gagasan dan selanjutnya terbentuklah berbagai konsep manajerial yang terpadu dengan kebutuhan massa. Tidak parsial. Ada argumentasi (ini yang membedakan performance artist bila dibandingkan dengan ‘orang gila’).
Untuk itulah dibutuhkan pengetahuan akurat atas sejarah sebelum menuju ruang pemahaman, jauh sebelum menjadi sikap atau langkah konkrit.

Aplikasi terhadap Publik
Perspektif massa sebagai salah satu struktur bangunan sebuah sistem dan tak akan pernah luput dari lingkaran siklus hidup dan fungsi organismenya, adalah sebuah kesadaran sekaligus kenyataan hakiki. Maka, bangunan konsep seni yang terlahir tak lagi hanya menjadi milik atau wacana individu dalam paket-paket eksklusif, namun telah menjadi milik publik karena telah terjadi penyadaran manajerial dalam benak publik. Betapa pun terlihat radikal pada awalnya.

Perkembangan Seni
Aktivitas
Para praktisi seni telah menunjukkan adanya sebuah fakta bahwa seni tak pernah diam dan stagnan, apa pun bentuknya, bagaimana pun perjuangannya. Lepas dari masalah suka atau tidak, setuju atau tidak, dilarang atau tidak, melanggar hukum atau tidak, seni tetap terus hidup meski dengan cara ‘gerilya’, latent dan hidup underground.
Kenyataan menunjukkan seni performa yang hidup dalam bingkai seni kontemporer ini telah mendunia. Pesat atau tidaknya seringkali bersifat sporadis. Walau pun praktek-praktek seni yang diselenggarakan seringkali tidak menyentuh dunia awam sekali pun.
Kondisi ini merupakan bukti bahwa seni performa tidak pernah bisa ‘mati’ atau ditumpas begitu saja oleh berbagai hal, termasuk hukum atau pun atas dasar agama atau pun kepercayaan apa pun.
Di satu sisi, berbagai hal bisa terjadi pada penyelenggaraan dan aksi seni performa yang menyumbangkan ide dan inspirasi positif atas kehidupan dan kesadaran berperadaban, meski bentuknya seringkali provokatif.
Hal ini berarti bahwa berbagai aktivitas seni, termasuk seni performa menjadi ‘hak’ baginya untuk tetap dapat tumbuh dan berkembang, seiring dengan perjalanan dan perkembangan wacananya.

Pendidikan
Perkembangan wacana menjadi salah satu kunci pembuka kesenjangan dalam pengetahuan. Pengetahuan dasar adalah sumber dari pergerakan beragam bentuk kesenian termasuk kemampuannya menjalin pemahaman terhadap publik luas, tak hanya publik seni.
Pentingnya eksistensi upaya-upaya informatif sebagai bentuk komunikasi dalam menyebarluaskan pengetahuan sejarah mengenai seni performa ke berbagai kalangan di antara publik seni, sebelum menjadi wacana masyarakat umum.
Upaya-upaya informatif ini dapat berbentuk talk, diskusi, seminar, konferensi atau pun penyelenggaraan berbagai festival lokal dan internasional, termasuk workshop dan pelatihan serta experimental production sebagai bentuk pengembangan selanjutnya.

Wacana Budaya
Kontribusi keberadaan seni performa bagi peradaban adalah pemetaan. Keberadaannya dalam sejarah seni, tidak bisa tidak merupakan sumber pengkajian yang bisa ditelaah dengan berbagai aspek dan sudut kepentingan serta perspektif.
Sejarah seni telah menerakan genre ini sebagai bagian dari studi seni. Hal ini berarti bahwa seni performa merupakan sumbangsih dari peradaban untuk peradaban. Ia hadir karena peradaban, dan ia akan menjadi aikon bagi peradaban tersebut mau pun peradaban kemudian. Keberadaannya tidak hadir begitu saja, namun merupakan kaitan mata rantai yang saling kait mengait dan tak hanya berurusan melulu dengan soal seni. Politik, sosial dan ekonomi adalah salah satu pokok yang menjadi dasar timbulnya dan berkembangnya genre ini dari satu titik di dunia hingga menyebar luas ke berbagai titik di sekujur bumi.
Menafikan berbagai hal yang seolah tak ada hubungannya dengan genre seni performa ini adalah sebuah tindakan yang ‘tak mungkin terjadi’. Sebab wacana tentang peradaban merupakan telaah budaya yang tak pernah surut dan berkesudahan hingga peradaban di dunia ini mati serempak, bersamaan dengan ketiadaan manusia.


POST OBSERVASI
Hasil penelitian menunjukkan adanya ‘ketidakmungkinan’ terjadinya ‘kematian’ bagi genre seni performa. Penyelenggaraan berbagai even secara sporadis baik di Indonesia dan Singapura adalah contoh paling jelas dan nyata.
Sejarah di Singapura bahkan menunjukkan meski seni performa dilarang diselenggarakan, namun para praktisinya justru makin eksis di ‘luar kandang’. Hingga kemudian waktu menunjukkan adanya perubahan dari kontra menuju pro dalam kebijaksanaan pemerintah. Dengan sikap ‘gerilya’, masing-masing seniman dan pemerhatinya melakukan perambahan studi (hingga ke luar negeri) dan wacana tentang performance art tetap terus dilakukan sehingga memasuki dan berada dalam forum-forum intelektual. Liat dan progressif, wacana ini pun terkuak dan mulai terbuka lebar serta menjadi perhatian pemerintah, hingga kemudian menjadi agenda seni nasional (dan internasional) yang difasilitasi pemerintah. Penghargaan budaya bahkan diberikan kepada senimannya.
Indonesia belum sepenuhnya memiliki kesepakatan ini. Meski pernah terjadi even-even internasional, bagi publik seni pun masih terasa asing dan membingungkan. Secara geografis, kesepakatan ini hanya dimungkinkan dengan adanya kerja sinergis antara berbagai lembaga dan individu.
Untuk itu, dalam kesempatan observasi ini, penulis lakukan pengumpulan data sambil memberikan acara talk dan sharing forum serta membuatnya sebagai ajang performance di berbagai institusi dan kota –baik di Jakarta (UnTar, TUK, BBJ), Bandung (UPI), Semarang (Laboratorium Seni Lengkongcilik), Solo (STSI) dan Makassar (Studio Seni Somba Opu - Galeri Firman Djamil), atas inisiatif pribadi dan kerjasama terkait dengan institusi setempat atau pun karena penulis diundang berperan serta. Beberapa berita mengenai aktivitas observasi penulis berikut tulisan makalah presentasi sempat pula dimuat di beberapa surat kabar daerah serta wawancara on air oleh radio setempat. Program talk/ lecture dan sharing forum juga penulis lakukan dalam rangkaian acara BaPAF#3 Goes to Campus di berbagai kampus di Bandung, antara lain UnPas (Universitas Pasundan), ITB (Institut Teknologi Bandung), Universitas Maranatha, STISI (Sekolah Tinggi Ilmu Seni Indonesia) dan FiKom UnPad (Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran).
Berbeda dengan Singapura yang merupakan negara kota dan nota bene lebih mudah serta lebih dahulu memiliki budaya pengetahuan dan pendidikan. Pemahaman yang diberikan kepada publik seni dan masyarakat umum menjadi lebih mudah karena metodologi berpikirnya lebih teratur. Indonesia dengan luas yang meliputi samudra dan ratusan nusa ini masih menjadi kendala dalam pelaksanaan penyebaran pengetahuan terkini, ditambah dengan berbagai hambatan budaya setempat serta upaya pemerintah dalam meletakkan strategi pendidikan dan penyebaran pengetahuan yang masih juga tertatih-tatih hingga detik ini. Kesenjangan berpengetahuan menjadi lebih berjurang lebar. Sebab, di negara-negara kelahiran genre seni performa (di Barat, khususnya) pun masih menjadi perdebatan. Apalagi bagi yang tak berwawasan. Ketidaksetaraan berpengetahuan dasar ini memungkinkan kondisi Indonesia akan mengalami fase sebagaimana yang dialami Singapura di masa kasus Joseph Ng.
Malaysia tengah mengalami hal ini. Penyelenggaraan SatuKali Performance Art Festival & Symposium di bulan April 2006 lalu adalah salah satu bukti bahwa seni performa belum mendapatkan tempat akibat ketidak setaraan berwawasan. Pengetahuan dasarnya pun bahkan belum terjalin. Pemberitaan, diskusi, tulisan mengenai festival tersebut bahkan tidak terjadi. Menurut penulis, pembungkaman fakta hanya makin membuat langkah ‘merugi’ bagi perkembangan wacana seni dan berbagai aspek lainnya di negara tersebut. Akan terjadi ketidaksetaraan bekal pengetahuan dalam konstelasi perkembangan wacana internasional. Hal ini pasti berpengaruh dalam pembinaan hubungan bilateral pun multilateral bersama negara-negara lain di dunia. Pun saat terjadi diskursus bersama negara-negara lain demi ketidaksetujuan atas keberadaan genre ini, bagaimana bisa turut urun rembug bila wacana dasarnya pun tak tahu menahu. Kesadaran bahwa sejarah tidak dapat dihilangkan; pengetahuan tidak bisa dihapuskan, kreativitas tak mungkin terkekang, masih belum menjadi perspektif bersama.

Profil
Observasi manajemen seni performa tak hanya berkaitan dengan pengelolaan acara performance art. Lebih jauh lagi, observasi ini lebih meliputi runutan kronologis setiap evennya, yang berarti menguak lapis demi lapis sejarahnya dan konstelasinya dalam sejarah seni serta peradaban manusia.

Tahapan
Tahapan yang dilalui dalam observasi ini adalah : 1) pengumpulan pendapat dan pemetaan pengetahuan atas genre seni performa dan pengalaman manajemen dalam penyelenggaraan even performance art di berbagai komunitas seni dan khususnya seni performa; 2) Referensi pustaka dan data; 3) observasi langsung ke berbagai acara performance art di Indonesia, Malaysia dan Singapura; 4) pengambilan kesimpulan dan teori. Tahapan dalam observasi ini dilaksanakan selama setahun (2005-2006).

Implikasi Hasil Observasi terhadap Ilmu Pengetahuan
Hasil penelitian ini menjadi sumbangsih bagi pengetahuan dan sejarah seni, serta perkembangan budaya.
Pengetahuan yang dihadirkan dalam laporan observasi ini merupakan akumulasi data dan fakta yang beberapa hal diimbuhi dengan berbagai kesimpulan obyektif dari penulis mau pun sebagai hasil cross-check dari beberapa nara sumber berdasarkan data yang ada. Pengetahuan ini akan menjadi salah satu sumber pijakan ke arah keberadaan wacana dan perkembangannya atas genre seni performa berikut keterkaitannya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan lainnya.
Hasil penelitian ini adalah salah satu oase dalam kelangkaan informasi kronologis dan akumulatif atas keberadaan seni performa di Indonesia, Singapura dan Malaysia. Penulisan ini merupakan rangkaian dan rangkuman kepingan-kepingan tulisan dan artikel yang tersebar di berbagai media massa.
Hasil penelitian ini juga akan menjadi salah satu acuan bagi para peneliti lainnya, khususnya dari negara-negara lain dan negara-negara yang telah terlebih dahulu menjadi ajang kelahiran genre seni performa, guna mengetahui peta perkembangan seni performa di seluruh dunia, hingga Asia Tenggara.

Implikasi Hasil Observasi terhadap Manfaatnya bagi Publik
Manfaat hasil penelitian ini diharapkan akan menjembatani jurang pengetahuan sekaligus pemahaman atas keberadaan genre seni performa di Indonesia, Malaysia mau pun Singapura.
Publik dapat mengetahui sejarah dasar di seputar kelahiran seni performa dan progresivitasnya dari masa ke masa, dari benua ke benua berikut muatan sosial, politik, budaya, dan sebagainya. Pengetahuan dasar yang dimiliki publik ini akan menjadi bekal dalam persepsi, pemahaman, interpretasi perspektif masing-masing. Sehingga saat terjadi peristiwanya –baik performance atau pun diskursus--, masing-masing telah memiliki bekal yang sama, selanjutnya adalah perkembangan intelektual yang lebih menuju brain storming (sharing forum) dan seterusnya. Bukan berupa ‘debat kusir’ yang tak ada ujung pangkalnya, pendapat dan hasil karya yang jauh dari wacana, atau pun penolakan mem’babibuta’ yang non-demokratis dan totaliter (jauh dari kemajuan peradaban manusia).


KONKLUSI
Manajemen seni dalam seni performa meliputi :1) manajemen wacana; 2) manajemen diri; 3) manajemen metodologi berpikir; 4) manajemen jalinan kerjasama (networking); 5) manajemen institusional (non-government & government); 6) manajemen pengetahuan dan pendidikan bagi publik; 7) manajemen acara (produksi)
Sinergi adalah kata kunci dari keberhasilan eksistensi seni performa.
Hal tersebut berarti kemampuan dalam manajemen yang meliputi pembinaan wacana, diri, cara berpikir open mind (ilmiah) dan mengikuti kaidah intelektualita (metodologi berpikir), menjalin networking dengan berbagai pihak yang bersangkutan baik individual mau pun institusional, government atau pun non-governmental serta terus tak berhenti menata pengetahuan dan meraih berbagai program pendidikan sebisa mungkin, sekaligus membagikan pengetahuan dan memberikan pendidikan bagi publik, adalah hal-hal dasar dalam produksi dan penyelenggaraan berbagai acara seni performa hingga berhasil dan tetap eksis, bukan sebagai paksaan namun mengalir dan terjadi dengan apa adanya.

----

Catatan: Sebahagian dari materi tulisan ini pernah dipresentasikan sebagai langkah observasi/ riset dengan berbagai acara diskusi [sharing forum] dan pemutaran video. Pertama kali dalam program “Tea Space” Fakultas Arsitektur UNTAR/Universitas Tarumanagara (29/4) di Jakarta, STSI/Sekolah Tinggi Seni Indonesia Jurusan Seni Rupa (7/5) di Solo/Surakarta, Laboratorium Seni Lengkongcilik (9/5) di Semarang dan Studio Seni Somba Opu/Galeri Firman Djamil (18/5) di Makassar Sulawesi Selatan, serta dimuat di harian Suara Merdeka (15 & 22/5) dengan mengalami perkembangan materi di setiap kali presentasi. Hingga kini materi tulisan ini makin berkembang seiring dengan data yang semakin banyak didapat. Di tahun 2006 ini, tulisan ini telah dipresentasikan di Komunitas Utan Kayu/TUK, Jakarta (8/3) dan Universitas Pendidikan Indonesia/UPI (2/4) di Bandung. Dalam tempo seminggu lalu materi ini hadir kembali dalam acara BaPAF#3 Goes to Campus (24/5-1/6) di Universitas Pasundan (UnPas), Institut Teknologi Bandung/ITB, Universitas Maranatha, STISI dan Fakultas Ilmu Komunikasi/FIKOM Universitas Padjadjaran/UnPad. Seminggu berikutnya giliran Bentara Budaya Jakarta mengusung acara talk penulis dan serangkaian penampilan para performer Indonesia dan manca negara (7/6). Di bulan September 2006 ini, materi makalah ini menjadi bahan diskusi dan sharing forum yang diselenggarakan B+PAC (Bandung Performance Art Community) dalam BaPAF (Bandung Performance Art Festival) Tour de Java ke Yogya, Solo, Surabaya dan Malang. Kemudian, materi ini makin dikembangkan sekaligus diedit sebagai laporan observasi yang diserahkan kepada Arts Network Asia yang tengah berpusat di Kuala Lumpur sebagai pihak pemberi grant. Materi laporan tersebut dikembangkan lagi menjadi materi tulisan ini yang penulis muat dalam situs blog tersendiri, agar bisa segera menjadi bahan referensi sekaligus wacana bagi siapa saja yang membutuhkan demi kepentingan positif, dengan memperhatikan (tidak melakukan pelanggaran) hak karya cipta (penulis, a/n: S S Listyowati) dan hak siar (observeperformanceart.blogspot.com).
---

Rangkaian Pustaka:

1. Siregar, Aminudin TH/ Lukisan Baru/ Galeri Kita, Bandung, Juni 2004

2. Hikayat, Heru/ Pada Margin/ Seminar “Apa itu Seni, Saat ini?”, Universitas Parahyangan, Bandung, 4 Juni 2004

3. Hikayat, Heru/ Tentang Pengetahuan dan Pelembagaan: Performance Art, si Anak Nakal/ Pikiran Rakyat, 9 Mei 2004

4. Hikayat, Heru/ Protes itu/ Dialog Terbuka Kasus Pembakaran Bendera Merah Putih oleh Dadan Januar dalam Performance Art 16 Agustus 2004/ Rumah Nusantara-Bandung 8 November 2004

5. Subarnas, Bambang/ Menelusuri Fenomena Performance Art dalam Seni Rupa Indonesia/ 2005

6. Kusmara, Andryanto Rikrik/ Seni Instalasi dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia: Studi Kasus Seni Instalasi Seniman Bandung/ Tesis untuk Magister ITB/ 1999

7. Nurfarina, Anne/ Telaah Nudity dalam Seni Rupa Indonesia (Studi Kasus: Seni Lukis, Seni Patung dan Performance Art pada Periode 1990-2002 dengan pendekatan Ilmu Semiotik)/ Tesis untuk Magister ITB/ 2003

8. Goldberg, RoseLee/ Performance: live art since the 60th/Thames & Hudson, New York/ 2004

9. Wikipedia/ Performance Art/ Free Encyclopedia/ 2005

10. Encyclopedia, The Columbia/ Performance Art/ Sixth Edition/ 2001

11. Byrd, Jeffery/ Performance Art/ an encyclopedia of gay, lesbian, bisexual, transgender and queer culture/gltbq, Inc., 1130 West Adams Street, Chicago/ 2002-2005

12. Furnace, Franklin/ A Brief History of Temporal Art/ A Virtual Institution of Franklin Furnace Archive, Inc./New York/ 1997

13. Malna, Afrizal/ Seni Outdoor dan Jangan Takut … Perdamaian Baru/ Journal of Moment Arts 2002 Makassar/ 2002

14. Village, Artists/ “AIM Festival 2000”/ Singapura/ 2000

15. Goldberg, RoseLee/ Performance – Live Art since 60th/ USA/ 1998

16. Carlson, Marvin/ Performance – A Critical Introduction/ London/ 1996

17. Feriawan/ Tubuh sebagai Medium Alternatif Berkarya Seni Rupa (Fenomena Performance Art Mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Rupa)/ Skripsi/ Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia/ 2006

18. Coulibeuf, Pierre/ Le Demon du Passage/ Ministeré des Affaires ètrangers (France)/ 2004

19. Zaelani, Rizki A/ Nasionalisme dan Perubahannya/ Refleksi Karya Sudjana Kerton/ Katalog Pameran di Gedung Pameran Seni Rupa Depdikbud/ 1996

20. Ostenrik, Teguh/ Menengok ke Masa Lalu dan Masa Depan/ Kompas/ Minggu, 24 April 1994

21. Akira, Tatehata/ Modernisme dalam Seni Rupa Indonesia/ The Japan Foundation/ 1996

22. Supangkat, Jim/ Asia Mengkaji Modernisme/ The Japan Foundation/ 1996

23. Supangkat, Jim/ Seni Rupa dan Proses Penyadaran Sejarah/ Visual Art/ edisi April- Mei 2005

24. Supangkat, Jim/ China Avant-Garde dan Seni Rupa Kontemporer/ Fang Li Jun, Life is Now/ CP Foundation/ 2006

25. Wardani, Farah/ Jatuh Bangun Melati Suryodarmo/ Visual Art#12/ 2006

26. Suwage, Agus/ “PAUSE/RE-PLAY”/ Katalog Pameran/ Galeri Soemardja/ 2005

27. Indonesia, antroplogi/Indonesia journal of social and cultural anthroplopogy/2005

28. Soedarsono, R.M./ Metodologi Penelitian/ Seni Pertunjukan dan Seni Rupa/ MSPI/ 1999

29. Dewanto, Nirwan/ Tujuh Paradoks Performance Art/ Koran Tempo Minggu/ Hal. 9/ 3 Maret/ 2002

30. Arcana, Putu Fajar/ Bandung dan Jaringan “Performance Art" Internasional/ Media Indonesia/ Minggu 2 Mei/ 2004

31. Widjono, Iwan/ Antara Aksi dan Peran dalam Performance Art dan Teater/ Surat YSC 07/ 2001

32. Echols, John M. & Hassan Shadily/ An English – Indonesian Dictionary/ Cornell University/ 1975

33. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa/ Kamus Besar Bahasa Indonesia/Edisi 2/ Departemen Pendidikan dan Kebudayaan/ Balai Pustaka/ 1994

34. Dictionary, The Lexicon Webster/ Volume 11/The English-Languange Institute of America, Inc./1978

35. Langenbach B.F.A., M.F.A., William Ray/ Performing the Singapore State 1988-1995/ Centre for Cultural Research University of Western Sydney/2003

36. Esa, Nazim/ StopOver at a Performance in Malaysia - Performance art in Malaysia/ 2005

37. Rais, Hishamuddin/Tapai: A Pontianak at Bangsar Utama/www.theedgedaily.com/2006

38. Wen, Lee/ Ideology:Irony:Imagination/ The Future Of Imagination #3/ 2006

39. Fan, Laura/ The grit beneath THE GLOSS/ Option/ Art/ February 2006

40. Chin, Sharon/ An art of action/ StarMag/ Sunday 19 February 2006

---

*
*
*
*
*
*
*

Puji Syukur dan Sujudku
Kepada
Sang Maha Kreator
Thank's to

Terima Kasih
Sedalam Samudera dan Seluas Angkasa
Kepada


Arts Network Asia
Marion D’Cruz
Sal Murgiyanto
Pia Alisjahbana
Toeti Herati

Ibunda Siti Aisjah - Ayahanda Soerjokotjo - Yunda Toety Asrul Rizani se-keluarga - Yunda Annie Happy Herwibowo se-keluarga - Tissy Arieza Virnyastuti - Alamanda Herdiani - Alm. Kakanda Imam Sya’ifuddin, Yunda Emmy & Ananda Ardi

Iswanto G Hartono- Komunitas Tea Space – Fakultas Arsitektur Universitas Tarumanagara- Tisna A Sanjaya -Yoyoyogasmana-Heru Hikayat-B+PAC-LinkArt-Aminuddin TH Siregar-Nurdian Ichsan-Galeri Soemardja-Dimas dkk-Andriyanto Rikrik Kumara-Nuning Damayanti-Anne Nurfarina-Dikdik-Staf Perpustakaan FSRD ITB-Arief Yudi-Nehik & Us Us Apriadi Yuniarso plus kedua percilnya-PerformanceKlub-STSI Surakarta- Heru & MATaYA Production -Tata Rupa Pentas STSI Surakarta-TB-Bumimanusia-Afrizal Malna-Soeprapto Suryodarmo-Boedi S Otong-Dani Iswardana, Ibunda & Alm Ayahanda-Agung PW-Laboratorium Seni Lengkongcilik-Triyanto Triwikromo-Suara Merdeka-Joko Dwi Hastanto-Firman Djamil dkk.-Studio Seni Somba Opu – Galeri Firman Djamil-Mimit dkk.-Radio Makassar-Anzul dkk-Shinta & Armand plus Sanggar Merah Putih-Warung Nyeni Universitas Maranatha-Harry Santoso dkk. -Krisna Murti-Feriawan-HIMASRA Universitas Pendidikan Indonesia-Kelompok-kelompok Performance Art di Bandung-Galeri Kita -Asbestos-Agus Suwage & Tita Rubi-Rifky Effendy-Arahmaiani-Reza Afisina (Asung) -Dwi Cemeti-Kedai Kebun-Teguh Ostenrik-Richard Oh-Aristides Katoppo & Ibu-Komunitas Utan Kayu-Sitok Srengenge-Toni Prabowo-Nirwan Dewanto-Hasif Amini-Rusdi-staff TUK-Paul Augusta-Josef CCF-Wayan Ardi CCF dkk.-Michel Nuridsany -Bentara Budaya Jakarta-Ipong Purnomosidhi-Efix Mulyadi-Mas Wied-Sie Dokumentasi & staff BBJ-Angga Wedhaswara-Ranger Mills-Silvia Isabel & her son-Jemaat dkk.-Rewind Art-Mukmin ‘Soge’ Ahmad-Odon dkk.-Ronald QThink Sibarani-Asep Deni (Ade) -Panji-Ultimus-Jill McDermid-Ari Nurtanio-Diro Aritonang-BEM FIS Universitas Pasundan-MAP (Maranatha Art Project)-BEM STISI-KMSR ITB-Komunitas Ventilasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran-Lee Wen-Jeremy Hiah & Lina Adam-Woon Tien Wei & Jennifer Theo-Juliana Yasin & her roomage-Tang Da Wu-kAI Lam-Khairuddin Hori-Lee Weng Choy-Ray Langenbach-Liew Kung Yu-Jezz-Tran Luong-Rahmat Haron-Nur Hanim-Caesar Chong-Nazim Esa-Saiful Razman-Rajif-Paul Cuillard-Nuri-Wiwik Widaryanti-Damaz Narpati dan roomage-nya di KL-dan semua pihak yang telah membantu proyek ini

God Bless You All!



---